ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Alergi Makanan, Gut-Brain Axis, dan Manifestasi Neurologis pada Bayi: Spektrum Klinis, Tantangan Diagnosis, dan Peran Oral Food Challenge

  • Alergi Makanan, Gut-Brain Axis, dan Manifestasi Neurologis pada Bayi: Spektrum Klinis, Tantangan Diagnosis, dan Peran Oral Food Challenge
  • Food Allergy, the Gut-Brain Axis, and Neurological Manifestations in Infants: Clinical Spectrum, Diagnostic Challenges, and the Role of Oral Food Challenge
  • Sandiaz Yudhasmara¹; Audi Yudhasmara, MD²; Widodo Judarwanto³
  • ¹ Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda, Jakarta, Indonesia
    ² Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
    ³ Departemen Kesehatan Anak, Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda, Jakarta, Indonesia

Food Allergy, the Gut-Brain Axis, and Neurological Manifestations in Infants: Clinical Spectrum, Diagnostic Challenges, and the Role of Oral Food Challenge

Abstract

  • Background: Food allergy in infancy may affect multiple organ systems, particularly the skin, gastrointestinal tract, and respiratory system. Emerging research on neuroimmune communication has raised questions about potential interactions between food allergy, gastrointestinal inflammation, behavior, and the central nervous system (CNS). However, the clinical significance of these interactions in infants remains incompletely understood.
  • Objective: To review the clinical spectrum of food allergy in infants, examine current evidence concerning the gut-brain axis and neurological manifestations, and discuss the role of oral food challenge (OFC) in diagnostic assessment.
  • Methods: This narrative review synthesizes selected international guidelines, consensus statements, and peer-reviewed literature on food allergy, gastrointestinal allergic disorders, neuroimmune interactions, and OFC. It is not a systematic review, and no quantitative synthesis or formal risk-of-bias assessment was performed.
  • Results: Food allergy may present with gastrointestinal symptoms, including vomiting, diarrhea, feeding difficulties, and, in selected phenotypes, impaired growth. Neuroimmune pathways involving mast cells, sensory neurons, immune mediators, and gut-brain communication provide biologically plausible mechanisms for interactions between intestinal inflammation and neural function. Nevertheless, direct clinical evidence linking food allergy causally to jitteriness, breath-holding spells, recurrent seizures, or nonspecific behavioral symptoms in infants remains limited. Such manifestations require evaluation for alternative diagnoses. OFC remains an important reference method for confirming or excluding food allergy when clinically indicated and when the risk-benefit assessment supports testing.
  • Conclusion: Food allergy, gastrointestinal symptoms, and neurological manifestations may coexist in infancy, but coexistence does not establish causality. Clinical assessment should integrate an allergy-focused history, appropriate investigations, nutritional and growth evaluation, neurological assessment when indicated, and supervised OFC when appropriate. Further prospective studies are needed to characterize neurological phenotypes and establish whether specific neuroimmune associations exist in infants with confirmed food allergy.
  • Keywords: food allergy; infant; gastrointestinal food allergy; central nervous system; gut-brain axis; neuroimmune interactions; jitteriness; breath-holding spells; seizures; oral food challenge

Abstrak

  • Latar belakang: Alergi makanan pada bayi dapat memengaruhi berbagai sistem organ, terutama kulit, saluran gastrointestinal, dan sistem pernapasan. Perkembangan penelitian neuroimunologi menimbulkan perhatian terhadap kemungkinan interaksi antara alergi makanan, inflamasi gastrointestinal, perilaku, dan sistem saraf pusat (SSP). Namun, makna klinis interaksi tersebut pada bayi belum sepenuhnya dipahami.
  • Tujuan: Meninjau spektrum klinis alergi makanan pada bayi, mengevaluasi bukti ilmiah mengenai gut-brain axis dan manifestasi neurologis, serta membahas peran oral food challenge (OFC) dalam proses diagnosis.
  • Metode: Tinjauan naratif ini menyintesis pedoman internasional, pernyataan konsensus, dan publikasi ilmiah tentang alergi makanan, gangguan alergi gastrointestinal, interaksi neuroimun, dan OFC. Artikel ini bukan tinjauan sistematis dan tidak melakukan meta-analisis maupun penilaian risiko bias secara formal.
  • Hasil: Alergi makanan dapat menimbulkan gejala gastrointestinal, termasuk muntah, diare, kesulitan makan, dan pada fenotipe tertentu gangguan pertumbuhan. Jalur neuroimun yang melibatkan sel mast, neuron sensorik, mediator inflamasi, dan komunikasi usus-otak memberikan dasar biologis untuk meneliti hubungan antara inflamasi usus dan fungsi saraf. Namun, bukti klinis yang menghubungkan alergi makanan secara kausal dengan jitteriness, breath-holding spells, kejang berulang, atau gejala perilaku nonspesifik pada bayi masih terbatas. Manifestasi tersebut memerlukan evaluasi terhadap diagnosis alternatif. OFC merupakan metode rujukan penting untuk mengonfirmasi atau menyingkirkan alergi makanan apabila terindikasi secara klinis dan penilaian manfaat-risikonya mendukung pemeriksaan tersebut.
  • Kesimpulan: Alergi makanan, gejala gastrointestinal, dan manifestasi neurologis dapat ditemukan bersamaan pada bayi, tetapi kemunculan bersamaan tidak membuktikan hubungan sebab akibat. Penilaian klinis perlu mengintegrasikan anamnesis alergi, pemeriksaan yang sesuai, evaluasi nutrisi dan pertumbuhan, pemeriksaan neurologis bila diperlukan, serta OFC terawasi sesuai indikasi. Penelitian prospektif diperlukan untuk mengidentifikasi fenotipe neurologis dan menentukan apakah terdapat hubungan neuroimun spesifik pada bayi dengan alergi makanan terkonfirmasi.

Kata kunci: alergi makanan, bayi, alergi gastrointestinal, sistem saraf pusat, gut-brain axis, interaksi neuroimun, jitteriness, breath-holding spells, kejang, oral food challenge.

1. Pendahuluan

  • Alergi makanan merupakan reaksi merugikan terhadap makanan yang dimediasi oleh sistem imun. Alergi makanan dapat melibatkan mekanisme yang dimediasi imunoglobulin E (IgE), mekanisme non-IgE, atau kombinasi keduanya. Manifestasi klinis bervariasi menurut mekanisme imunologis, jenis makanan, usia pasien, dan sistem organ yang terlibat. Pada bayi, diagnosis sering menjadi tantangan karena muntah, regurgitasi, menangis, perubahan pola buang air besar, kesulitan makan, dan berat badan sulit naik juga dapat ditemukan pada kondisi fisiologis maupun gangguan fungsional [1–3].
  • Saluran gastrointestinal memiliki hubungan erat dengan sistem saraf, sistem imun, dan mikrobiota usus. Interaksi tersebut mendorong perhatian terhadap gut-brain axis, yaitu komunikasi dua arah antara usus dan otak. Penelitian neuroimunologi mengidentifikasi kemungkinan interaksi antara sel mast, neuron, mediator inflamasi, dan respons perilaku pada model eksperimental alergi makanan [4].
  • Namun, kemungkinan biologis harus dibedakan dari hubungan sebab akibat yang telah dibuktikan secara klinis. Iritabilitas, jitteriness, breath-holding spells, dan kejang memiliki berbagai kemungkinan penyebab. Kemunculan gejala tersebut pada bayi dengan dugaan alergi makanan tidak membuktikan bahwa makanan menjadi penyebab kejadian neurologis.
  • Tinjauan ini membahas spektrum klinis gastrointestinal dan neurologis pada bayi dengan dugaan alergi makanan, merangkum bukti mengenai komunikasi gut-brain axis, serta menjelaskan strategi diagnosis, termasuk oral food challenge yang dilakukan dengan pengawasan medis.

2. Metodologi Tinjauan

  • Tinjauan naratif ini menggunakan publikasi ilmiah dan pedoman klinis internasional mengenai diagnosis alergi makanan, gangguan alergi gastrointestinal, interaksi neuroimun, dan oral food challenge. Prioritas diberikan kepada publikasi yang terindeks PubMed serta pedoman dari organisasi profesi yang diakui.
  • Artikel ini tidak diklaim sebagai tinjauan sistematis. Artikel ini tidak menggunakan protokol pencarian sistematis yang ditetapkan sebelumnya, penyaringan ganda, penilaian risiko bias formal, atau meta-analisis. Pembahasan membedakan rekomendasi klinis yang telah mapan dari hipotesis mekanistik dan pertanyaan yang masih memerlukan bukti ilmiah.

3. Alergi Makanan dan Manifestasi Gastrointestinal pada Bayi

  • Alergi makanan dapat memengaruhi saluran gastrointestinal melalui beberapa fenotipe klinis. Reaksi yang dimediasi IgE umumnya muncul relatif cepat setelah paparan, sedangkan gangguan gastrointestinal non-IgE dapat menimbulkan gejala tertunda. Fenotipe campuran juga dapat terjadi [1–3,5].
  • Alergi protein susu sapi merupakan salah satu diagnosis yang penting pada bayi. Namun, gejalanya memiliki banyak kemiripan dengan kondisi fisiologis dan gangguan fungsional yang umum ditemukan pada masa bayi. Makalah posisi European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) tahun 2024 menekankan risiko diagnosis berlebihan dan merekomendasikan eliminasi diagnostik dalam waktu terbatas, dilanjutkan dengan pengenalan kembali makanan atau uji tantangan yang sesuai untuk memastikan diagnosis [3].
  • Tabel 1. Manifestasi gastrointestinal dan klinis terkait pada bayi
Ranah klinis Manifestasi yang mungkin ditemukan Pertimbangan diagnosis
Saluran gastrointestinal atas Muntah, regurgitasi, penolakan makan Pertimbangkan refluks, gangguan keterampilan makan, infeksi, dan penyakit alergi
Saluran gastrointestinal bawah Diare, perubahan konsistensi tinja, darah pada tinja, ketidaknyamanan perut Pertimbangkan infeksi, fisura anus, gangguan fungsional, dan alergi non-IgE
Pemberian makan dan nutrisi Asupan menurun, penolakan makan, waktu makan berkepanjangan Evaluasi keterampilan makan, asupan makanan, dan kecukupan nutrisi
Pertumbuhan Berat badan sulit naik atau gangguan pertumbuhan Evaluasi asupan kalori, penyakit kronis, malabsorpsi, dan penyebab lain
Kulit Urtikaria, angioedema, dermatitis atopik Nilai waktu munculnya gejala dan hubungan dengan paparan makanan
Sistem pernapasan Mengi, stridor, gangguan pernapasan Gejala akut setelah paparan dapat menunjukkan reaksi alergi sistemik
Kondisi umum atau neurologis Pucat, letargi, penurunan respons, kolaps Pertimbangkan anafilaksis, hipoglikemia, dehidrasi, infeksi, dan penyakit neurologis
  • Manifestasi tersebut tidak dapat digunakan secara terpisah untuk menegakkan diagnosis alergi makanan. Interpretasi klinis memerlukan riwayat yang sesuai dan pemeriksaan diagnostik yang tepat [1–3,5].
  • 3.1. Gejala gastrointestinal dan pertumbuhan
    • Bayi dengan muntah menetap, diare, kesulitan makan, atau inflamasi gastrointestinal dapat mengalami asupan nutrisi yang tidak memadai atau gangguan pertumbuhan. Namun, berat badan sulit naik merupakan gejala nonspesifik dan memerlukan evaluasi klinis yang luas.
    • Makalah posisi ESPGHAN menyoroti konsekuensi alergi protein susu sapi yang tidak terdiagnosis maupun yang didiagnosis secara keliru. Diet eliminasi jangka panjang yang tidak diperlukan dapat meningkatkan risiko defisiensi nutrisi dan berdampak buruk terhadap praktik pemberian makan serta kualitas hidup keluarga [3].
  • 3.2. Alergi gastrointestinal non-IgE
    • Food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES) merupakan salah satu bentuk alergi makanan non-IgE. Kondisi ini ditandai dengan muntah berulang yang tertunda setelah paparan makanan dan pada sebagian pasien disertai diare, pucat, letargi, dehidrasi, atau syok. Bentuk kronis dapat menimbulkan gejala gastrointestinal menetap dan gangguan pertumbuhan [5].
    • Perubahan neurologis selama episode FPIES berat, khususnya letargi yang nyata atau penurunan respons, dapat mencerminkan beratnya penyakit sistemik. Gejala tersebut tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai bukti inflamasi primer pada sistem saraf pusat atau efek neurologis langsung dari alergen makanan.

4. Gut-Brain Axis dan Interaksi Neuroimun

  • Gut-brain axis merupakan sistem komunikasi dua arah antara saluran gastrointestinal dan sistem saraf pusat. Sistem ini melibatkan jalur saraf, termasuk saraf vagus dan sistem saraf enterik, serta mediator imun, sinyal endokrin, metabolit mikroba, dan mekanisme humoral lainnya.
  • Pada alergi makanan, aktivasi imun pada mukosa gastrointestinal dapat memengaruhi pensinyalan sensorik lokal, sekresi, dan motilitas. Sel mast dan neuron dapat berinteraksi melalui mediator seperti histamin, triptase, sitokin, dan zat inflamasi lainnya. Mekanisme tersebut memberikan dasar untuk meneliti bagaimana respons imun usus dapat memengaruhi pemrosesan rangsangan sensorik dan respons fisiologis [4].
  • Houghton dan kolega meninjau interaksi neuroimun pada alergi makanan dan membahas bukti awal mengenai kemungkinan hubungan dengan perilaku serta fungsi neurologis [4]. Penelitian tersebut mendukung perlunya penelitian lanjutan, tetapi belum membuktikan bahwa alergi makanan menyebabkan sindrom neurologis tertentu pada bayi.

Gambar 1. Jalur konseptual hubungan alergi makanan dan gut-brain axis

Paparan alergen makanan pada individu yang tersensitisasi

↓

Aktivasi imun dan pelepasan mediator

Sel mast, mediator inflamasi, dan pensinyalan imun lokal.

↓

Jalur yang berpotensi berinteraksi

Efek gastrointestinal, termasuk perubahan motilitas, sekresi, dan pensinyalan sensorik viseral.

Komunikasi saraf dan humoral yang melibatkan sistem saraf enterik, jalur vagal, dan mediator sistemik.

↓

Respons klinis yang mungkin terjadi

 

  • Ketidaknyamanan gastrointestinal, perubahan respons fisiologis, atau perubahan perilaku, bergantung pada mekanisme yang mendasarinya.
  • Model konseptual ini menggambarkan jalur biologis yang masuk akal. Model ini tidak membuktikan hubungan sebab akibat antara alergi makanan dan gejala neurologis tertentu.
  • 4.1. Bukti translasi dan keterbatasan klinis
    • Temuan mekanistik dari penelitian eksperimental dapat mengidentifikasi jalur biologis untuk diteliti lebih lanjut, tetapi tidak dapat langsung diterapkan pada setiap bayi. Penelitian pada manusia perlu menentukan apakah bayi dengan alergi makanan yang terkonfirmasi memiliki kejadian gejala neurologis spesifik yang lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding yang sesuai.
    • Penelitian berikutnya perlu menggunakan definisi gejala yang terstandardisasi, pemeriksaan neurologis objektif, konfirmasi alergi makanan, serta penyesuaian terhadap usia, status nutrisi, defisiensi besi, infeksi, gangguan tidur, dan faktor perkembangan.

5. Manifestasi Neurologis pada Bayi dengan Dugaan Alergi Makanan

    • Gejala neurologis dan perilaku perlu dinilai berdasarkan waktu munculnya, durasi, keterulangan, temuan penyerta, dan hubungan dengan paparan makanan. Perubahan respons secara akut yang disertai gangguan pernapasan, hipotensi, atau manifestasi anafilaksis lainnya memerlukan evaluasi dan penanganan segera.
    • Gejala nonspesifik seperti menangis, iritabilitas, gangguan tidur, dan perubahan perilaku sementara tidak dapat digunakan secara mandiri untuk menegakkan diagnosis alergi makanan [1,2,4].

Tabel 2. Gejala neurologis dan diagnosis banding

Manifestasi Gambaran klinis Interpretasi
Iritabilitas Menangis berlebihan, gelisah, sulit ditenangkan Dapat menyertai ketidaknyamanan, tetapi tidak spesifik
Jitteriness Gerakan gemetar, terkadang sensitif terhadap rangsangan Evaluasi penyebab metabolik, efek obat, infeksi, dan gangguan neurologis
Perubahan perilaku Perubahan aktivitas atau respons secara mendadak Nilai waktu paparan dan gejala alergi atau sistemik yang menyertai
Letargi Aktivitas atau respons menurun Dapat menunjukkan penyakit sistemik berat, dehidrasi, hipoglikemia, infeksi, atau penyakit neurologis
Gangguan tidur Sering terbangun atau sulit tidur Tidak spesifik dan dapat dipengaruhi berbagai faktor fisiologis atau lingkungan
Breath-holding spells Episode menahan napas setelah menangis, nyeri, frustrasi, atau ketakutan Belum terbukti sebagai manifestasi spesifik alergi makanan
Sinkop atau kolaps Kehilangan kesadaran atau tonus postural sementara Pertimbangkan penyebab kardiovaskular, vasovagal, pernapasan, dan alergi
Kejang atau konvulsi Gerakan motorik abnormal, kekakuan, atau gangguan kesadaran Memerlukan evaluasi penyebab epileptik, metabolik, infeksi, dan neurologis lainnya
  • 5.1. Jitteriness
    • Jitteriness menggambarkan gerakan gemetar yang dapat sensitif terhadap rangsangan pada neonatus dan bayi muda. Evaluasi klinis perlu membedakan jitteriness dari kejang epileptik melalui pola gerakan, respons terhadap rangsangan, tingkat kesadaran, dan temuan klinis lainnya.
    • Pada bayi dengan dugaan alergi makanan, gejala berulang yang memiliki hubungan waktu dengan pemberian makan dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Anamnesis terstruktur perlu mencatat jenis dan jumlah makanan, interval hingga gejala muncul, durasi, keterulangan, serta gejala gastrointestinal, kulit, pernapasan, atau kardiovaskular yang menyertai.
    • Hubungan waktu saja tidak membuktikan hubungan sebab akibat. Diagnosis banding meliputi hipoglikemia, gangguan elektrolit, infeksi, efek obat, dan gangguan neurologis.
  • 5.2. Breath-holding spells
    • Breath-holding spells biasanya terjadi pada bayi dan anak kecil setelah menangis, mengalami nyeri, ketakutan, atau frustrasi. Episode dapat disertai sianosis atau pucat dan terkadang kehilangan kesadaran singkat.
    • Breath-holding spells belum terbukti sebagai manifestasi langsung alergi makanan. Apabila episode terjadi saat atau setelah pemberian makan, dokter perlu menentukan apakah kejadian tersebut merupakan breath-holding spell yang khas, aspirasi, sinkop, kejang, atau reaksi alergi akut.
    • Defisiensi besi perlu dipertimbangkan jika sesuai dengan temuan klinis. Diagnosis harus didasarkan pada karakteristik episode dan evaluasi yang tepat, bukan pada dugaan mekanisme gut-brain axis semata.
  • 5.3. Kejang dan keterlibatan sistem saraf pusat
    • Kejang pada bayi memerlukan evaluasi diagnostik tersendiri. Reaksi alergi sistemik berat dapat disertai perubahan kesadaran atau aktivitas menyerupai kejang ketika terjadi gangguan sirkulasi atau hipoksia. Namun, bukti yang tersedia belum menunjukkan bahwa alergi makanan merupakan penyebab umum kejang berulang yang berdiri sendiri.
    • Diagnosis banding meliputi gangguan epileptik, hipoglikemia, gangguan elektrolit, infeksi sistem saraf pusat, dan kejadian nonepileptik. Kejang pertama, kejang berkepanjangan, gangguan kesadaran menetap, atau kesulitan bernapas memerlukan penilaian medis segera.
  • 6. Evaluasi Diagnostik Dugaan Alergi Makanan
    • Diagnosis dimulai dengan anamnesis alergi yang terarah dan pemeriksaan fisik. Pada dugaan alergi yang dimediasi IgE, skin prick test dan pemeriksaan IgE spesifik terhadap makanan dapat mendukung penilaian sensitisasi. Hasil pemeriksaan harus ditafsirkan sesuai riwayat klinis karena sensitisasi saja tidak membuktikan alergi klinis [1,2].
    • Pada dugaan alergi gastrointestinal non-IgE, diagnosis mengandalkan fenotipe klinis, penyingkiran penyebab alternatif yang masuk akal, serta eliminasi diagnostik dalam waktu terbatas yang diikuti pengenalan kembali makanan jika sesuai [3,5].

Tabel 3. Metode diagnostik dan perannya

Metode Peran klinis Keterbatasan utama
Anamnesis alergi terarah Mengidentifikasi makanan yang dicurigai, waktu, keterulangan, dan organ yang terlibat Ingatan pasien atau orang tua dan gejala nonspesifik dapat membatasi interpretasi
Skin prick test Mendeteksi sensitisasi pada dugaan alergi IgE Hasil positif saja tidak membuktikan alergi klinis
IgE spesifik serum Mendukung evaluasi dugaan alergi IgE Harus ditafsirkan bersama riwayat klinis
Eliminasi diagnostik dan pengenalan kembali Menilai dugaan penyakit non-IgE pada kasus terpilih Perbaikan saja tidak membuktikan hubungan sebab akibat
Oral food challenge Mengonfirmasi atau menyingkirkan reaktivitas klinis jika terindikasi Memerlukan penilaian risiko dan pengawasan medis
Evaluasi neurologis Menyelidiki jitteriness, dugaan kejang, perubahan kesadaran, atau episode berulang yang tidak biasa Pemeriksaan disesuaikan dengan gambaran klinis
  • Panel pemeriksaan makanan yang luas dan tidak terarah dapat menemukan sensitisasi yang tidak berkaitan dengan gejala pasien sehingga menyebabkan pembatasan diet yang tidak diperlukan. Pemeriksaan harus ditargetkan pada makanan yang dicurigai berdasarkan anamnesis [1,2].

7. Oral Food Challenge

Oral food challenge merupakan metode rujukan penting untuk memastikan apakah konsumsi makanan tertentu menimbulkan reaksi alergi yang dapat direproduksi. Pedoman EAACI merekomendasikan OFC pada kasus yang hasil evaluasinya belum memberikan kepastian, dengan keputusan berdasarkan riwayat klinis, hasil pemeriksaan, dan penilaian risiko [1].

Laporan kelompok kerja AAAAI mengenai pelaksanaan OFC memberikan panduan tentang pemilihan pasien, keselamatan, pemberian dosis, observasi, interpretasi, serta tantangan pada bayi dan pasien dengan dugaan FPIES [6]. Laporan konsensus PRACTALL juga memberikan prinsip standardisasi untuk uji tantangan makanan tersamar ganda dengan kontrol plasebo [7].

  • 7.1. OFC pada dugaan alergi gastrointestinal
    • Pada dugaan alergi susu sapi, eliminasi diagnostik selama sekitar 2 sampai 4 minggu dapat sesuai untuk beberapa kasus non-IgE, kemudian diikuti pengenalan kembali atau uji tantangan berdasarkan fenotipe klinis dan pedoman yang berlaku [3].
    • Interpretasi OFC harus berfokus pada temuan objektif yang telah ditentukan sebelumnya dan kriteria yang sesuai dengan gangguan alergi yang dicurigai. Manifestasi gastrointestinal dapat memerlukan observasi lebih lama daripada reaksi IgE yang muncul segera, bergantung pada kondisi yang sedang dievaluasi.
  • 7.2. OFC pada bayi dengan gejala neurologis atau perilaku
    • OFC dapat membantu menentukan apakah makanan yang dicurigai menimbulkan reaksi alergi yang dapat direproduksi, apabila indikasinya dapat dibenarkan secara klinis. Namun, perbaikan iritabilitas, tidur, atau jitteriness selama eliminasi tidak cukup untuk membuktikan alergi makanan.
    • Uji tantangan tidak boleh dilakukan dengan tujuan memicu kejang atau kejadian neurologis berbahaya. Bayi dengan kejang yang belum terjelaskan, perubahan kesadaran bermakna, atau dugaan reaksi sistemik berat memerlukan evaluasi yang sesuai sebelum OFC dipertimbangkan. Dokter spesialis yang bertanggung jawab harus menentukan indikasi, tempat pelaksanaan, pemantauan, dan kesiapan penanganan darurat.

Tabel 4. Interpretasi temuan selama evaluasi alergi makanan

Temuan Interpretasi
Gejala berulang setelah paparan Meningkatkan kecurigaan, tetapi perlu ditafsirkan berdasarkan fenotipe
Perbaikan selama eliminasi Mendukung evaluasi lanjutan, tetapi tidak memastikan alergi
Gejala kembali saat pengenalan ulang terencana Memperkuat bukti hubungan sebab akibat jika polanya sesuai
OFC positif dengan temuan objektif Mendukung diagnosis alergi klinis terhadap makanan yang diuji
OFC negatif dengan protokol memadai Menurunkan kemungkinan alergi klinis dalam kondisi pengujian tersebut
Perubahan perilaku subjektif saja Memerlukan interpretasi hati-hati dan penilaian faktor perancu
  • OFC harus dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih dengan fasilitas dan protokol yang sesuai dengan reaksi yang diperkirakan. Uji tantangan di rumah tidak tepat apabila terdapat dugaan reaksi berat.

8. Prioritas Penelitian

  • Penelitian prospektif perlu menilai apakah gejala neurologis tertentu lebih sering ditemukan pada bayi dengan alergi makanan terkonfirmasi dibandingkan bayi tanpa alergi yang terkonfirmasi. Penelitian perlu membedakan manifestasi neurologis dari reaksi sistemik akut, gejala perilaku nonspesifik, dan gangguan neurologis primer.
  • Pertanyaan penelitian yang dapat dikembangkan adalah:
  • Apakah gejala neurologis yang didefinisikan secara objektif lebih sering ditemukan pada bayi dengan alergi makanan terkonfirmasi dibandingkan bayi tanpa alergi makanan terkonfirmasi setelah penyesuaian terhadap gejala gastrointestinal, status besi, infeksi, usia, dan faktor perkembangan?
  • Kohort prospektif dapat mencakup variabel berikut:
  1. Fenotipe alergi makanan yang terkonfirmasi, termasuk alergi IgE dan non-IgE.
  2. Gejala gastrointestinal dan penilaian pemberian makan yang tervalidasi.
  3. Pengukuran antropometri dan skor-z pertumbuhan.
  4. Definisi terstandardisasi untuk iritabilitas, jitteriness, breath-holding spells, dan kejang.
  5. Hasil eliminasi diagnostik dan OFC jika terindikasi secara klinis.
  6. Faktor perancu, termasuk defisiensi besi, infeksi, gangguan tidur, paparan obat, dan kondisi perkembangan.
  • Luaran primer harus ditetapkan sebelum penelitian dimulai. Kejadian neurologis perlu dinilai menggunakan kriteria klinis objektif jika memungkinkan. Perbaikan gejala selama eliminasi tidak boleh diperlakukan sebagai bukti tunggal mekanisme alergi.

9. Implikasi Klinis

  • Tiga hal perlu dibedakan dalam praktik klinis.
  • Pertama, perubahan neurologis dapat menyertai reaksi alergi sistemik berat, khususnya ketika terjadi gangguan sirkulasi atau pernapasan. Kedua, ketidaknyamanan gastrointestinal dapat memengaruhi perilaku bayi tanpa menunjukkan penyakit primer sistem saraf pusat. Ketiga, mekanisme neuroimun memberikan kerangka penelitian yang masuk akal, tetapi belum menjelaskan secara kausal jitteriness, breath-holding spells, atau kejang berulang pada bayi dengan alergi makanan.
  • Pendekatan diagnostik yang seimbang dapat mengurangi risiko alergi yang tidak terdiagnosis maupun pembatasan makanan yang tidak diperlukan. Pendekatan ini juga membantu mencegah keterlambatan diagnosis gangguan metabolik, infeksi, kardiovaskular, dan neurologis.

10. Kesimpulan

  • Alergi makanan pada bayi dapat melibatkan gejala gastrointestinal, konsekuensi nutrisi, dan reaksi alergi sistemik. Gut-brain axis memberikan kerangka biologis untuk meneliti interaksi antara imunitas usus dan fungsi saraf. Namun, bukti yang tersedia belum menetapkan jitteriness, breath-holding spells, atau kejang berulang sebagai manifestasi spesifik alergi makanan.
  • Diagnosis perlu mengintegrasikan anamnesis klinis, pemeriksaan alergi terarah, evaluasi pertumbuhan dan nutrisi, pemeriksaan neurologis jika diperlukan, serta OFC terawasi sesuai indikasi. Penelitian prospektif pada manusia diperlukan untuk menentukan apakah terdapat fenotipe neurologis yang berulang pada bayi dengan alergi makanan terkonfirmasi dan menjelaskan mekanisme yang mendasari hubungan tersebut.

Daftar Pustaka

  • Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076. doi:10.1111/all.15902.
  • Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003.
  • Vandenplas Y, Broekaert I, Domellöf M, et al. An ESPGHAN position paper on the diagnosis, management, and prevention of cow’s milk allergy. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2024;78(2):386-413. doi:10.1097/MPG.0000000000003897.
  • Houghton V, Eiwegger T, Borges Florsheim E, Knibb RC, Thuret S, Santos AF. From bite to brain: Neuro-immune interactions in food allergy. Allergy. 2024;79(12):3326-3340. doi:10.1111/all.16366.
  • Nowak-Węgrzyn A, Chehade M, Groetch ME, et al. International consensus guidelines for the diagnosis and management of food protein-induced enterocolitis syndrome: Executive summary. J Allergy Clin Immunol. 2017;139(4):1111-1126.e4. doi:10.1016/j.jaci.2016.12.966.
  • Bird JA, Leonard S, Groetch M, et al. Conducting an oral food challenge: An update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group Report. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020;8(1):75-90.e17. doi:10.1016/j.jaip.2019.09.029.
  • Sampson HA, Gerth van Wijk R, Bindslev-Jensen C, et al. Standardizing double-blind, placebo-controlled oral food challenges: American Academy of Allergy, Asthma & Immunology-European Academy of Allergy and Clinical Immunology PRACTALL consensus report. J Allergy Clin Immunol. 2012;130(6):1260-1274. doi:10.1016/j.jaci.2012.10.017.
  • Stochel-Gaudyn A, Kozioł-Kozakowska A, Kowalska-Duplaga K. Rational use of elimination diets in infants and toddlers: Navigating the overlap between disorders of gut-brain interaction (DGBI) and food allergy: A narrative review. Nutrients. 2026;18(19):3211. doi:10.3390/nu18193211.
  • Catatan sebelum pengiriman: pastikan kembali ejaan nama penulis, gelar, nama resmi rumah sakit dan universitas, serta persetujuan seluruh penulis. Jurnal tujuan mungkin meminta abstrak terstruktur, pernyataan konflik kepentingan, sumber pendanaan, kontribusi penulis, dan alamat penulis korespondensi.
Visited 2 times, 2 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *