Judul
Alergi Makanan pada Bayi, Anak, dan Remaja. Dampaknya terhadap Sistem Saluran Kemih. Tinjauan Patofisiologi Molekuler serta Peran Oral Food Challenge dalam Diagnosis dan Penatalaksanaan Berbasis Bukti
Abstrak
Alergi makanan merupakan penyakit imunologis sistemik yang dapat memengaruhi berbagai organ, termasuk saluran cerna, kulit, saluran napas, sistem saraf pusat, dan pada sebagian pasien diduga berhubungan dengan saluran kemih. Pada bayi, anak, dan remaja, respons imun yang dimediasi IgE maupun non-IgE menyebabkan pelepasan histamin, triptase, leukotrien, prostaglandin, platelet activating factor, serta berbagai sitokin proinflamasi yang memengaruhi permeabilitas jaringan dan fungsi organ. Selain memengaruhi gut-brain axis dan perkembangan neurologis, beberapa penelitian menunjukkan bahwa mediator inflamasi juga dapat memengaruhi kandung kemih, meskipun bukti klinis masih terbatas. Penelitian terbaru tidak menemukan hubungan bermakna antara alergi makanan yang telah dikonfirmasi dengan gejala saluran kemih bawah pada anak, namun laporan kasus dan penelitian biomarker menunjukkan kemungkinan keterlibatan inflamasi mast cell pada sebagian pasien tertentu. Oral Food Challenge tetap merupakan baku emas diagnosis alergi makanan sehingga eliminasi makanan hanya dilakukan pada pasien dengan diagnosis yang telah terkonfirmasi. Pendekatan berbasis bukti ini mencegah overdiagnosis, menghindari restriksi diet yang tidak diperlukan, serta menjaga pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
Pendahuluan
Alergi makanan mengenai sekitar 6 hingga 8 persen anak dan merupakan salah satu penyakit alergi yang prevalensinya terus meningkat di seluruh dunia. Manifestasi klinis tidak terbatas pada kulit, saluran cerna, dan sistem pernapasan, tetapi dapat melibatkan berbagai organ melalui mekanisme inflamasi sistemik. Dalam beberapa tahun terakhir perhatian juga berkembang terhadap kemungkinan hubungan alergi makanan dengan gangguan neurologis, perilaku, tidur, dan fungsi saluran kemih.
Hubungan alergi makanan dengan gangguan saluran kemih masih menjadi perdebatan. Beberapa laporan menunjukkan bahwa aktivasi mast cell dan pelepasan histamin dapat memengaruhi kandung kemih sehingga menimbulkan urgensi, frekuensi berkemih, nyeri kandung kemih, atau gejala mirip sistitis interstisial pada sebagian individu. Namun studi kasus kontrol terbaru pada anak usia 6 sampai 17 tahun tidak menemukan peningkatan bermakna gejala lower urinary tract symptoms pada anak dengan alergi makanan yang telah dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium. Oleh karena itu hubungan tersebut belum dapat dianggap sebagai hubungan sebab akibat.
Patofisiologi Molekuler
Alergen makanan diproses oleh sel dendritik mukosa usus dan dipresentasikan kepada limfosit T CD4 sehingga terjadi dominasi respons Th2 dengan peningkatan IL-4, IL-5, IL-13, IL-33, TSLP, dan pembentukan IgE spesifik. Ikatan IgE dengan reseptor FcεRI pada sel mast dan basofil menyebabkan degranulasi dan pelepasan histamin, triptase, leukotrien C4, prostaglandin D2, platelet activating factor, TNF-α, IL-1β, serta IL-6.
Mediator tersebut meningkatkan permeabilitas mukosa usus, mengganggu tight junction, mengubah komposisi mikrobiota, dan memungkinkan translokasi mediator inflamasi ke sirkulasi sistemik. Pada sistem saraf pusat terjadi aktivasi mikroglia, peningkatan TNF-α, perubahan aktivitas hipokampus, korteks serebri, jalur mTOR, serta gangguan neurotransmiter serotonin, GABA, dan glutamat.
Pada saluran kemih, histamin, leukotrien, prostaglandin, nerve growth factor, dan sitokin proinflamasi diduga meningkatkan aktivasi serabut saraf sensorik kandung kemih, meningkatkan kontraktilitas detrusor, mengubah permeabilitas urotelium, serta mengaktifkan mast cell lokal. Mekanisme ini telah didokumentasikan pada sistitis interstisial dan masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut pada alergi makanan anak.
Gangguan Saluran Kemih yang Pernah Dilaporkan Berkaitan dengan Alergi Makanan
- Frekuensi berkemih meningkat.
- Urgensi berkemih.
- Disuria tanpa infeksi.
- Nyeri kandung kemih.
- Nyeri suprapubik.
- Nokturia.
- Kandung kemih overaktif.
- Dysfunctional voiding.
- Pollakiuria.
- Enuresis pada sebagian anak.
- Inkontinensia urgensi.
- Rasa tidak lampias setelah berkemih.
- Hipersensitivitas kandung kemih.
- Sistitis interstisial pada laporan kasus tertentu.
- Peningkatan histamin urin.
- Peningkatan N-methylhistamine urin.
- Perubahan sitokin urin.
- Perubahan metabolit asam organik urin pada alergi susu sapi.
- Gejala saluran kemih yang membaik setelah eliminasi makanan pada sebagian laporan kasus.
- Gejala saluran kemih berulang yang memerlukan evaluasi alergi sebagai diagnosis banding setelah penyebab lain disingkirkan.
Penting untuk ditekankan bahwa sebagian besar manifestasi di atas belum memiliki bukti kausal yang kuat pada populasi anak dan tidak boleh langsung dianggap sebagai akibat alergi makanan.
Peran Oral Food Challenge
Evaluasi dimulai dengan anamnesis rinci mengenai hubungan konsumsi makanan dengan munculnya gejala saluran cerna, kulit, pernapasan, neurologis, maupun saluran kemih. Pemeriksaan skin prick test dan IgE spesifik hanya menunjukkan sensitisasi sehingga tidak cukup untuk menegakkan diagnosis alergi makanan.
Oral Food Challenge merupakan baku emas diagnosis alergi makanan. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap di fasilitas kesehatan dengan pengawasan dokter yang berpengalaman. Eliminasi makanan hanya diberikan apabila OFC menunjukkan hasil positif. Pendekatan ini mencegah eliminasi makanan yang tidak diperlukan sehingga risiko gangguan nutrisi, defisiensi mikronutrien, dan gangguan pertumbuhan dapat dihindari.
Pada anak dengan gangguan saluran kemih kronis yang tidak dapat dijelaskan, evaluasi multidisiplin oleh dokter anak, ahli alergi imunologi, urologi anak, nefrologi anak, ahli gizi, dan bila diperlukan neurologi anak dapat dipertimbangkan setelah penyebab infeksi, kelainan anatomis, dan gangguan neurologis telah disingkirkan.
Kesimpulan
Alergi makanan merupakan penyakit sistemik yang dapat memengaruhi berbagai organ melalui aktivasi imun, pelepasan mediator inflamasi, dan gangguan gut-brain axis. Bukti ilmiah mengenai keterlibatan saluran kemih masih terbatas. Laporan kasus dan penelitian biomarker menunjukkan kemungkinan peran inflamasi mast cell pada sebagian pasien, namun studi kasus kontrol terbaru tidak menemukan hubungan bermakna antara alergi makanan yang telah dikonfirmasi dan gejala saluran kemih bawah pada anak. Oleh karena itu evaluasi alergi makanan pada pasien dengan keluhan saluran kemih harus dilakukan secara selektif dan berbasis bukti. Oral Food Challenge tetap menjadi standar emas untuk memastikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala klinis sehingga tata laksana menjadi tepat, aman, dan menghindari overdiagnosis.
Daftar Pustaka
- Peard LM, Li B, Dorris S, Zhao S, Adams C, Clayton DB, Thomas JC, Pope JC IV, Adams MC, Brock JW III, Taylor AS. Are children with food allergies more likely to have lower urinary tract symptoms? A case-control study. Can J Urol. 2024;31(2):11840-11846.
- Raithel M, Hagel A, Albrecht H, et al. Excretion of urinary histamine and N-methylhistamine in patients with gastrointestinal food allergy compared to non-allergic controls during an unrestricted diet and a hypoallergenic diet. BMC Gastroenterol. 2015;15:41. doi:10.1186/s12876-015-0268-4.
- Lee AS, Parsons ES, Chang I, et al. Quantitative analysis of urinary cytokines in food-allergic and healthy individuals. Allergy. 2023;78(9):2523-2526. doi:10.1111/all.15707.
- Salmi H, Kuitunen M, Viljanen M, Lapatto R. Cow’s milk allergy is associated with changes in urinary organic acid concentrations. Pediatr Allergy Immunol. 2010;21(2 Pt 2):e401-e406. doi:10.1111/j.1399-3038.2009.00881.x.












Leave a Reply