ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Alergi Makanan pada Bayi, Anak, dan Remaja. Dampaknya terhadap Otot dan Tulang. Tinjauan Patofisiologi Molekuler serta Peran Oral Food Challenge dalam Diagnosis dan Penatalaksanaan Berbasis Bukti

Alergi Makanan pada Bayi, Anak, dan Remaja. Dampaknya terhadap Otot dan Tulang. Tinjauan Patofisiologi Molekuler serta Peran Oral Food Challenge dalam Diagnosis dan Penatalaksanaan Berbasis Bukti

Abstrak

Alergi makanan merupakan penyakit imunologis sistemik yang dapat memengaruhi berbagai organ, termasuk sistem muskuloskeletal. Pada bayi, anak, dan remaja, dampak terhadap otot dan tulang dapat terjadi melalui dua mekanisme utama, yaitu inflamasi imunologis langsung dan gangguan status gizi akibat eliminasi makanan yang tidak tepat. Aktivasi jalur imun Th2, sel mast, eosinofil, serta pelepasan histamin, leukotrien, prostaglandin, TNF-α, IL-1β, dan IL-6 dapat memengaruhi metabolisme otot, tulang, dan sendi. Selain itu, pembatasan makanan tanpa konfirmasi diagnosis dapat menyebabkan defisiensi protein, kalsium, vitamin D, fosfor, dan mikronutrien lain yang penting bagi pertumbuhan. Beberapa laporan kasus dan penelitian eksperimental menunjukkan kemungkinan hubungan antara alergi makanan dengan artritis, sinovitis, tortikolis akut, serta nyeri muskuloskeletal pada individu tertentu. Namun, bukti ilmiah saat ini belum mendukung bahwa alergi makanan merupakan penyebab umum penyakit sendi inflamasi pada anak. Oral Food Challenge (OFC) tetap menjadi baku emas untuk memastikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala sehingga eliminasi makanan dilakukan secara tepat, aman, dan berbasis bukti.

Pendahuluan

Pertumbuhan sistem muskuloskeletal berlangsung sangat pesat sejak bayi hingga remaja. Pembentukan massa tulang puncak, perkembangan otot, koordinasi motorik, dan kekuatan fisik sangat bergantung pada kecukupan nutrisi, aktivitas fisik, regulasi hormonal, serta keseimbangan sistem imun. Gangguan pada salah satu faktor tersebut dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan.

Alergi makanan dapat memengaruhi sistem muskuloskeletal secara langsung melalui pelepasan mediator inflamasi maupun secara tidak langsung melalui gangguan nutrisi akibat eliminasi makanan yang berkepanjangan. Sebagian besar anak dengan alergi makanan tidak mengalami kelainan tulang atau sendi. Namun, pada sebagian kecil pasien telah dilaporkan adanya artritis, sinovitis, nyeri otot, tortikolis akut, dan gangguan pertumbuhan yang membaik setelah makanan pemicu diidentifikasi dan dihindari. Hubungan tersebut masih jarang dan memerlukan konfirmasi melalui OFC.

Patofisiologi 

  • Alergen makanan dipresentasikan oleh sel dendritik kepada limfosit T CD4 sehingga mengaktifkan respons Th2 dengan peningkatan IL-4, IL-5, IL-13, IL-33, dan thymic stromal lymphopoietin. Aktivasi ini merangsang pembentukan IgE spesifik yang berikatan dengan reseptor FcεRI pada sel mast dan basofil.
  • Paparan ulang alergen menyebabkan degranulasi sel mast dengan pelepasan histamin, triptase, leukotrien, prostaglandin D2, platelet activating factor, TNF-α, IL-1β, IL-6, dan berbagai kemokin. Mediator tersebut meningkatkan permeabilitas vaskular, merekrut eosinofil dan neutrofil, serta memperkuat inflamasi jaringan.
  • Pada jaringan tulang, TNF-α, IL-1β, dan IL-6 meningkatkan ekspresi RANKL sehingga diferensiasi osteoklas meningkat dan resorpsi tulang bertambah. Inflamasi kronis juga menghambat aktivitas osteoblas sehingga pembentukan tulang menurun.
  • Pada jaringan otot, sitokin proinflamasi meningkatkan degradasi protein melalui aktivasi jalur ubiquitin-proteasome, menurunkan sintesis protein, serta mengganggu fungsi mitokondria sehingga timbul kelemahan dan mudah lelah.
  • Gangguan absorpsi protein, kalsium, vitamin D, fosfor, magnesium, dan zinc akibat inflamasi usus atau restriksi diet yang tidak tepat memperburuk pertumbuhan tulang dan massa otot.
  • Model hewan menunjukkan bahwa paparan antigen makanan dapat memicu sinovitis inflamasi melalui pembentukan kompleks imun dan infiltrasi limfosit pada sinovium. Pada manusia, bukti tersebut masih terbatas pada laporan kasus dan seri kasus.

Manifestasi Otot, Tulang, dan Sendi yang Pernah Dilaporkan Berkaitan dengan Alergi Makanan

  1. Nyeri otot.
  2. Nyeri tulang.
  3. Nyeri sendi.
  4. Artralgia berulang.
  5. Sinovitis.
  6. Artritis inflamasi pada sebagian kecil pasien.
  7. Kekakuan sendi pagi hari.
  8. Pembengkakan sendi.
  9. Penurunan kekuatan otot.
  10. Mudah lelah saat aktivitas.
  11. Hipotonia pada bayi dengan malnutrisi.
  12. Keterlambatan duduk atau berjalan akibat gangguan nutrisi.
  13. Gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  14. Berat badan sulit meningkat.
  15. Osteopenia.
  16. Osteoporosis sekunder.
  17. Rakitis akibat defisiensi vitamin D dan kalsium.
  18. Fraktur akibat kerapuhan tulang.
  19. Tortikolis akut yang sangat jarang dilaporkan berhubungan dengan reaksi alergi makanan.
  20. Penurunan kualitas hidup akibat nyeri muskuloskeletal kronis.

Perlu ditekankan bahwa sebagian besar manifestasi tersebut tidak spesifik untuk alergi makanan dan memerlukan evaluasi menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab lain seperti infeksi, penyakit autoimun, kelainan ortopedi, penyakit metabolik, atau gangguan neurologis.

Peran Oral Food Challenge

  • Anamnesis merupakan langkah utama untuk menilai hubungan temporal antara konsumsi makanan dan munculnya keluhan muskuloskeletal. Riwayat dermatitis atopik, urtikaria, gangguan saluran cerna, rinitis alergi, atau asma yang muncul bersamaan dapat meningkatkan kecurigaan terhadap alergi makanan.
  • Pemeriksaan skin prick test dan IgE spesifik hanya menunjukkan sensitisasi sehingga tidak dapat dijadikan dasar tunggal untuk melakukan eliminasi makanan.
  • Oral Food Challenge merupakan baku emas diagnosis alergi makanan dan harus dilakukan di fasilitas kesehatan dengan tenaga medis yang berpengalaman. Eliminasi makanan hanya dilakukan apabila OFC menunjukkan hasil positif. Setelah diagnosis dipastikan, kebutuhan protein, kalsium, vitamin D, fosfor, dan zat gizi lain harus dipenuhi melalui makanan pengganti yang setara agar pertumbuhan tulang dan otot tetap optimal.
  • Pada anak dengan artritis, nyeri sendi kronis, atau gangguan muskuloskeletal, evaluasi reumatologi anak tetap menjadi prioritas. Pemeriksaan alergi makanan dilakukan hanya bila terdapat riwayat klinis yang mendukung.

Kesimpulan

Alergi makanan dapat memengaruhi sistem otot, tulang, dan sendi melalui inflamasi sistemik, aktivasi sitokin proinflamasi, gangguan metabolisme tulang, serta defisiensi nutrisi akibat eliminasi makanan yang tidak tepat. Bukti ilmiah mengenai hubungan langsung antara alergi makanan dan artritis masih terbatas pada laporan kasus, studi eksperimental, dan sejumlah kecil penelitian klinis. Oleh karena itu, alergi makanan bukan penyebab umum penyakit muskuloskeletal pada bayi, anak, dan remaja. Pada pasien dengan manifestasi multisistem yang dicurigai berkaitan dengan makanan, Oral Food Challenge tetap merupakan baku emas untuk memastikan hubungan sebab akibat sehingga terapi eliminasi dilakukan secara tepat, aman, dan berbasis bukti.

Daftar Pustaka

  1. Panush RS, Stroud RM, Webster EM. Food-induced (allergic) arthritis. Inflammatory arthritis exacerbated by milk. Arthritis Rheum. 1986;29(2):220-226. doi:10.1002/art.1780290210.
  2. Pacor ML, Lunardi C, Di Lorenzo G, Biasi D, Corrocher R. Food allergy and seronegative arthritis: report of two cases. Clin Rheumatol. 2001;20(4):279-281. doi:10.1007/s100670170046.
  3. Panush RS, Webster EM, Endo LP, Greer JM, Woodard JC. Food induced (“allergic”) arthritis: inflammatory synovitis in rabbits. J Rheumatol. 1990;17(3):285-290.
  4. Randolph TG. Acute torticollis due to food allergy. J Lab Clin Med. 1948;33(12):1614.
  5. Meyer R, De Koker C, Dziubak R, et al. Malnutrition in children with food allergies in the UK. J Hum Nutr Diet. 2014;27(3):227-235. doi:10.1111/jhn.12149.
  6. Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, et al. EAACI Guidelines on the diagnosis and management of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2014;69(8):1008-1025. doi:10.1111/all.12429.
Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *