ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Alergi dan Hormon Estrogen: Mengapa Perubahan Hormon Dapat Memengaruhi Respons Alergi?

 

Alergi dan Hormon Estrogen: Mengapa Perubahan Hormon Dapat Memengaruhi Respons Alergi?

Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Abstrak

Alergi merupakan respons sistem imun yang berlebihan terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh. Perbedaan kejadian dan manifestasi alergi antara laki-laki dan perempuan menunjukkan bahwa hormon seks dapat ikut memengaruhi respons imun. Salah satu hormon yang banyak mendapat perhatian adalah estrogen. Estrogen tidak hanya berperan dalam sistem reproduksi, tetapi juga berinteraksi dengan berbagai sel imun, termasuk sel T, sel B, sel mast, eosinofil, monosit, dan makrofag. Estradiol (E2), bentuk estrogen yang paling poten dan dominan dalam sirkulasi, dapat memengaruhi diferensiasi dan fungsi sel imun, produksi antibodi, respons Th2, serta aktivitas sel mast. Pada kondisi tertentu, perubahan kadar estrogen selama siklus menstruasi, kehamilan, dan masa menopause dapat berkaitan dengan perubahan gejala penyakit alergi. Estrogen juga bekerja melalui reseptor estrogen, yaitu ERα, ERβ, dan reseptor estrogen membran GPER, yang memungkinkan hormon ini memengaruhi fungsi sel melalui mekanisme genomik maupun non-genomik. Hubungan estrogen dengan alergi bersifat kompleks karena efeknya dapat berbeda bergantung pada jenis sel, jaringan, kadar hormon, dan kondisi imunologis. Pemahaman mengenai interaksi estrogen dan sistem imun dapat membantu menjelaskan mengapa manifestasi penyakit alergi dapat berbeda berdasarkan jenis kelamin dan fase kehidupan.

Kata kunci: alergi, estrogen, estradiol, sistem imun, IgE, sel mast, respons Th2, hormon seks

Estrogen selama ini dikenal sebagai hormon yang berperan dalam sistem reproduksi perempuan. Namun, fungsi estrogen jauh lebih luas. Hormon ini juga berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh. Interaksi tersebut menjadi menarik dalam ilmu alergi. Perubahan kadar estrogen dapat memengaruhi aktivitas berbagai sel imun, termasuk sel T, sel B, sel mast, eosinofil, makrofag, dan sel dendritik. Karena itu, perubahan hormonal pada masa pubertas, siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause dapat berkaitan dengan perubahan gejala penyakit alergi.

Estrogen bukan berarti selalu memperburuk alergi. Efeknya bergantung pada jenis sel, jaringan, kadar hormon, fase kehidupan, jenis penyakit, dan jalur imun yang terlibat. Bahkan pada penyakit yang sama, kadar estrogen yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat memberikan efek yang berbeda.

Estrogen bukan hanya hormon reproduksi

  • Estrogen berperan dalam berbagai fungsi tubuh. Hormon ini terlibat dalam metabolisme glukosa dan lipid, fungsi otak, pertumbuhan, serta aktivasi sel.
  • Dalam sistem kekebalan tubuh, estrogen dapat memengaruhi produksi sitokin, aktivitas sel imun, produksi antibodi, dan mekanisme toleransi imun. Efeknya dapat berubah sepanjang siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause.
  • Pada manusia dewasa terdapat tiga bentuk estrogen utama, yaitu estron atau E1, estradiol atau E2, dan estriol atau E3. Estradiol merupakan bentuk estrogen yang paling poten dan merupakan estrogen utama yang beredar pada perempuan dewasa.

Estradiol dan sistem kekebalan tubuh

  • Estradiol dapat memengaruhi cara sistem kekebalan tubuh bekerja.
  • Salah satu pengaruhnya terlihat pada sel dendritik. Sel ini berperan menangkap antigen dan mengarahkan respons imun berikutnya. Estradiol dapat memengaruhi proses diferensiasi, pematangan, dan fungsi sel dendritik.
  • Estradiol juga dapat memengaruhi sel T. Pada kondisi tertentu, estrogen dapat meningkatkan respons Th2 dan produksi antibodi. Respons Th2 merupakan salah satu jalur imun yang sangat penting dalam penyakit alergi.

Tabel 1. Pengaruh estrogen terhadap beberapa komponen sistem imun

Sel atau komponen imun Pengaruh estrogen yang dilaporkan Hubungan dengan alergi
Sel dendritik Memengaruhi pematangan dan fungsi Dapat memengaruhi proses sensitisasi
Sel T Dapat meningkatkan respons Th2 pada kondisi tertentu Berkaitan dengan respons alergi tipe 2
Sel B Memengaruhi proliferasi dan produksi antibodi Berhubungan dengan produksi IgE
Sel mast Dapat meningkatkan degranulasi yang dipicu IgE Pelepasan histamin dan mediator alergi
Eosinofil Dapat memengaruhi kelangsungan hidup dan fungsi Berperan dalam inflamasi alergi
Makrofag Memengaruhi polarisasi dan fungsi Berhubungan dengan inflamasi dan remodeling jaringan
Sel epitel Dapat memengaruhi mediator inflamasi Berperan dalam respons jaringan terhadap alergen

Mengapa estrogen dapat berhubungan dengan alergi?

  • Pada alergi yang diperantarai IgE, sistem imun membentuk IgE spesifik terhadap alergen.
  • IgE kemudian menempel pada reseptor FcεRI di permukaan sel mast. Ketika alergen kembali masuk dan menghubungkan IgE tersebut, sel mast dapat mengalami degranulasi. Histamin dan mediator lainnya kemudian dilepaskan dan menimbulkan gejala alergi.
  • Penelitian yang dirangkum dalam artikel sumber menunjukkan bahwa estradiol dapat meningkatkan degranulasi sel mast yang dipicu IgE. Sebagian efek tersebut diperantarai oleh reseptor estrogen α atau ERα. Temuan ini menunjukkan bahwa estrogen dapat memengaruhi ambang aktivasi sel mast.
  • Dengan kata lain, estrogen dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan bagaimana sel imun merespons rangsangan alergi.

Estrogen dapat memengaruhi tahap awal sensitisasi

  • Pengaruh estrogen terhadap alergi tidak hanya terjadi ketika gejala sudah muncul.
  • Estrogen juga dapat memengaruhi fase sensitisasi, yaitu tahap ketika sistem imun pertama kali membangun respons terhadap suatu alergen.
  • Pada beberapa antigen-presenting cells, termasuk sel dendritik dan makrofag, estradiol dapat meningkatkan ekspresi MHC kelas II dan molekul kostimulator seperti B7 dan CD40. Molekul tersebut membantu proses komunikasi antara antigen-presenting cells dan limfosit.
  • Proses ini dapat memfasilitasi aktivasi sel B dan pembentukan sel plasma yang menghasilkan IgE.

Estrogen dan sel B

  • Sel B memiliki peran penting dalam alergi karena sel ini menghasilkan antibodi, termasuk IgE.
  • Estrogen dapat memengaruhi proliferasi dan kelangsungan hidup sel B. Hormon ini juga dapat memengaruhi sejumlah molekul yang mengatur kelangsungan hidup dan apoptosis sel B.
  • Artikel sumber juga menjelaskan bahwa regulasi melalui reseptor estrogen dapat berhubungan dengan class switching menuju IgE dan proses somatic hypermutation pada sel B yang sedang berkembang. Pada model eksperimental, estrogen dan senyawa estrogenik dapat meningkatkan produksi IgE.
  • Temuan tersebut memberikan salah satu penjelasan biologis mengenai hubungan estrogen dengan respons alergi, walaupun hasil penelitian eksperimental tidak dapat langsung digunakan untuk memperkirakan respons alergi pada setiap manusia.

Estrogen dan histamin

  • Histamin merupakan salah satu mediator utama dalam reaksi alergi.
  • Histamin dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, gatal, bersin, produksi mukus, dan berbagai gejala alergi lainnya.
  • Sumber yang digunakan dalam artikel ini menyebutkan bahwa estrogen dapat meningkatkan pelepasan histamin dari basofil manusia. Basofil merupakan sel imun yang juga memiliki peran dalam reaksi alergi.
  • Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh estrogen terhadap alergi dapat terjadi pada beberapa tingkat, mulai dari sensitisasi, produksi IgE, aktivasi sel mast dan basofil, hingga pelepasan mediator inflamasi.

Estrogen memiliki dua jalur utama

  • Estrogen bekerja melalui reseptor khusus.
  • Dua kelompok utama reseptor estrogen adalah ERα dan ERβ. Selain itu, terdapat G protein-coupled estrogen receptor atau GPER.
  • ERα dan ERβ terutama dikenal melalui mekanisme genomik. Estrogen masuk ke dalam sel dan berikatan dengan reseptor. Kompleks tersebut kemudian dapat masuk ke inti sel dan memengaruhi ekspresi gen.
  • GPER lebih banyak dikaitkan dengan respons non-genomik yang berlangsung lebih cepat. Aktivasi GPER dapat memengaruhi jalur pensinyalan seperti MAPK dan PI3K.

Tabel 2. Tiga reseptor utama estrogen

Reseptor Lokasi dan mekanisme Relevansi
ERα Reseptor nuklir dan dapat ditemukan pada membran sel Mengatur ekspresi gen dan berbagai respons imun
ERβ Reseptor nuklir dan dapat ditemukan pada membran sel Memengaruhi fungsi sel imun dan jaringan
GPER Reseptor membran Menghasilkan respons estrogen yang relatif cepat melalui jalur pensinyalan intraseluler

Reseptor estrogen terdapat pada sel imun

  • Reseptor estrogen tidak hanya terdapat pada organ reproduksi.
  • ERα dan ERβ ditemukan pada berbagai sel sistem kekebalan tubuh, termasuk sel T dan sel B. Tingkat ekspresinya dapat berbeda antarjenis sel.
  • Sel T CD4+ dan makrofag M2 dilaporkan lebih banyak mengekspresikan ERα, sedangkan sel B dan sel epitel saluran napas menunjukkan ekspresi ERβ yang lebih tinggi dalam penelitian yang dirangkum sumber.
  • GPER juga ditemukan pada berbagai sel imun, termasuk limfosit B, limfosit T, monosit, makrofag, neutrofil, dan eosinofil.
  • Hal ini menjelaskan mengapa perubahan estrogen dapat memberikan efek luas terhadap sistem imun.

Estrogen dan eosinofil

  • Eosinofil merupakan salah satu sel penting pada inflamasi alergi, terutama pada penyakit dengan inflamasi tipe 2 seperti sebagian kasus asma.
  • Penelitian mengenai GPER menunjukkan hasil yang belum konsisten. Salah satu penelitian pada eosinofil manusia menemukan bahwa aktivasi GPER dapat menghambat apoptosis spontan eosinofil. Temuan tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa estrogen dapat memengaruhi keberlangsungan hidup eosinofil.
  • Namun, penelitian lain menggunakan model tikus dengan asma kronis menunjukkan hasil berbeda. Aktivasi GPER dengan agonis G-1 justru menurunkan inflamasi saluran napas, jumlah eosinofil dan limfosit, serta meningkatkan proporsi sel T regulator Foxp3+ CD4+.

Perbedaan hasil ini sangat penting.

  • Efek estrogen tidak dapat dianggap selalu meningkatkan alergi. Efeknya bergantung pada reseptor, jaringan, kadar hormon, waktu pajanan, serta kondisi biologis.

Estrogen dan asma

  • Hubungan estrogen dengan asma merupakan salah satu bidang yang paling banyak diteliti.
  • Pada model eksperimental, tikus betina yang mendapatkan pajanan alergen dapat menunjukkan hiperresponsivitas saluran napas, infiltrasi eosinofil, dan produksi sitokin tipe 2 yang lebih tinggi dibandingkan tikus jantan.
  • ILC2 juga memiliki peran dalam proses tersebut. Sel ILC2 dapat menghasilkan IL-5 dan IL-13 yang berperan dalam inflamasi tipe 2.
  • Namun, hubungan estrogen dan asma tidak sederhana.
    • Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar estrogen yang sangat rendah juga dapat berkaitan dengan masalah saluran napas. Sebaliknya, kadar estrogen yang tinggi atau penggunaan terapi hormonal pada kondisi tertentu juga dapat berhubungan dengan peningkatan gejala.
    • Artinya, hubungan estrogen dan asma mungkin memiliki pola yang bergantung pada kadar dan konteks biologis.
  • Siklus menstruasi dan gejala asma
    • Perubahan kadar estrogen sepanjang siklus menstruasi dapat memengaruhi sebagian perempuan dengan asma.
    • Gejala asma pada sebagian pasien dapat berubah pada fase tertentu dari siklus. Perubahan tersebut kemungkinan melibatkan interaksi antara estrogen, progesteron, sistem imun, saluran napas, dan faktor lain.
    • Karena respons setiap perempuan berbeda, pola tersebut sebaiknya dinilai melalui catatan gejala dan fungsi paru secara individual.

Estrogen dan menopause

  • Menopause menyebabkan perubahan besar pada lingkungan hormonal, terutama penurunan estrogen.
  • Artikel sumber menunjukkan adanya hubungan antara menopause dan perubahan gejala asma. Pada saat yang sama, beberapa penelitian melaporkan peningkatan prevalensi rinitis alergi pada perempuan pascamenopause.
  • Temuan tersebut tampak berlawanan dengan sebagian data yang menunjukkan bahwa estrogen dapat meningkatkan respons alergi.
  • Hal ini justru menunjukkan bahwa estrogen memiliki fungsi yang kompleks. Estrogen dapat meningkatkan jalur imun tertentu, tetapi pada kondisi lain juga dapat membantu mempertahankan regulasi imun.

Estrogen dapat membantu toleransi imun

  • Estrogen tidak hanya memiliki efek proinflamasi.
  • Hormon ini juga dapat berperan dalam mekanisme regulasi imun. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa estrogen dapat meningkatkan aktivitas regulatory T cells atau Treg, IL-10, dan FOXP3. Ketiga komponen tersebut berperan dalam menjaga toleransi imun.
  • Karena itu, mengatakan bahwa “estrogen menyebabkan alergi” merupakan penyederhanaan yang tidak sesuai dengan kompleksitas bukti ilmiah.
  • Efek estrogen dapat berbeda berdasarkan kadar hormon, reseptor yang aktif, jenis sel, jaringan, dan fase kehidupan.

Estrogen dan rinitis alergi

  • Rinitis alergi juga dapat dipengaruhi oleh perubahan hormonal.
  • Pada kehamilan, sebagian perempuan mengalami perubahan gejala rinitis. Ada yang mengalami perburukan rinitis yang sudah ada sebelumnya. Sebagian lainnya mengalami pregnancy-induced rhinitis, yaitu rinitis yang muncul selama kehamilan dan umumnya membaik setelah persalinan. Artikel sumber menyebutkan kondisi ini dapat mengenai sekitar 20% perempuan hamil.

Sekali lagi, efek estrogen tidak seragam.

  • Pada kondisi tertentu estrogen dapat memperkuat respons inflamasi. Pada kondisi lain, estrogen dapat meningkatkan mekanisme regulasi imun yang membantu mengendalikan inflamasi.

Tabel 3. Mengapa efek estrogen terhadap alergi dapat berbeda?

Faktor Pengaruh
Kadar estrogen Efek dapat berbeda pada kadar rendah dan tinggi
Jenis reseptor ERα, ERβ, dan GPER memiliki fungsi berbeda
Jenis sel Respons sel mast berbeda dengan respons sel T atau eosinofil
Jenis jaringan Saluran napas, kulit, dan mukosa dapat memberikan respons berbeda
Usia Respons berubah sepanjang perkembangan
Pubertas Mengubah lingkungan hormonal
Siklus menstruasi Menimbulkan fluktuasi hormon
Kehamilan Menimbulkan perubahan hormonal dan imun yang besar
Menopause Menurunkan kadar estrogen
Penyakit alergi Mekanisme asma tidak identik dengan rinitis atau dermatitis

Bagaimana dengan kontrasepsi hormonal?

  • Beberapa penelitian yang dirangkum dalam sumber menunjukkan hubungan antara penggunaan kontrasepsi oral yang mengandung estrogen dan progestogen dengan peningkatan wheezing pada sebagian perempuan dengan asma.
  • Namun, temuan tersebut tidak berarti semua perempuan dengan asma akan mengalami perburukan setelah menggunakan kontrasepsi hormonal.
  • Keputusan penggunaan kontrasepsi harus mempertimbangkan kondisi individual, jenis kontrasepsi, penyakit penyerta, kontrol asma, dan faktor risiko lainnya.
  • Terapi pengganti hormon juga memiliki hubungan yang kompleks dengan asma. Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan diagnosis asma setelah terapi pengganti hormon dimulai dan penurunan setelah terapi dihentikan. Temuan tersebut mendukung kemungkinan bahwa efek estrogen terhadap saluran napas bergantung pada dosis dan kondisi biologis.

Estrogen lingkungan juga perlu diperhatikan

  • Tubuh tidak hanya terpapar estrogen alami.
  • Beberapa bahan lingkungan memiliki aktivitas estrogenik. Senyawa tersebut dikenal sebagai xenoestrogen atau endocrine-disrupting chemicals dengan aktivitas menyerupai estrogen.
  • Artikel sumber menyebutkan bahwa beberapa polutan estrogenik, termasuk dioxins, dapat berinteraksi dengan reseptor estrogen dan berpotensi memengaruhi pelepasan histamin serta respons alergi.
  • Namun, bukti mengenai hubungan paparan lingkungan tersebut dengan penyakit alergi manusia masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Bagaimana dengan fitoestrogen?

  • Tidak semua senyawa yang memiliki aktivitas estrogenik memiliki efek yang sama.
  • Fitoestrogen merupakan senyawa dari tumbuhan yang dapat berinteraksi dengan jalur reseptor estrogen. Salah satu contoh yang dibahas dalam sumber adalah secoisolariciresinol diglucoside atau SDG yang banyak terdapat pada biji rami.
  • Dalam model tikus dengan rinitis alergi akibat ovalbumin, SDG dalam makanan dikaitkan dengan perbaikan rinitis melalui metabolit mikrobiota, yaitu enterodiol. Enterodiol dalam bentuk aglikon dilaporkan dapat menghambat degranulasi yang diperantarai IgE melalui mekanisme yang bergantung pada GPR30.
  • Temuan ini menarik karena menunjukkan hubungan antara estrogen, mikrobiota, metabolisme senyawa makanan, dan alergi.
  • Namun, hasil pada hewan belum dapat dianggap sebagai bukti bahwa fitoestrogen tertentu dapat digunakan sebagai terapi alergi pada manusia.

Apa yang perlu dipahami?

  • Estrogen memiliki hubungan yang erat dengan sistem kekebalan tubuh.
  • Hormon ini dapat memengaruhi sel dendritik, sel T, sel B, sel mast, eosinofil, makrofag, dan sel epitel. Estrogen juga dapat memengaruhi produksi IgE, pelepasan histamin, inflamasi tipe 2, serta mekanisme toleransi imun.
  • Namun, efek estrogen tidak selalu sama.
  • Pada satu kondisi, estrogen dapat memperkuat respons alergi. Pada kondisi lain, estrogen dapat mendukung mekanisme regulasi imun. Perbedaan ini bergantung pada kadar hormon, reseptor yang terlibat, jenis sel, jaringan, usia, dan kondisi fisiologis.
  • Karena itu, hubungan antara estrogen dan alergi lebih tepat dipahami sebagai hubungan yang kompleks dan dinamis.

Tabel 4. Ringkasan hubungan estrogen dengan alergi

Mekanisme Kemungkinan efek
Aktivasi sel dendritik Dapat memengaruhi proses sensitisasi
Aktivasi Th2 Dapat memperkuat respons alergi tipe 2
Aktivasi sel B Dapat meningkatkan produksi antibodi termasuk IgE
Aktivasi sel mast Dapat meningkatkan degranulasi yang dipicu IgE
Basofil Dapat meningkatkan pelepasan histamin
Eosinofil Dapat memengaruhi kelangsungan hidup dan fungsi
Makrofag Dapat memengaruhi polarisasi dan inflamasi
ILC2 Dapat memengaruhi produksi IL-5 dan IL-13
Treg Pada kondisi tertentu dapat meningkatkan regulasi imun
Epigenetik Dapat mengubah ekspresi gen yang mengatur respons imun
Saluran napas Dapat memengaruhi inflamasi dan fungsi otot polos
Reseptor GPER Dapat menghasilkan efek yang berbeda tergantung konteks

Kesimpulan

  • Estrogen merupakan hormon yang memiliki fungsi luas dalam sistem kekebalan tubuh. Pengaruhnya terhadap alergi melibatkan banyak jenis sel dan jalur biologis.
  • Estradiol dapat memengaruhi sensitisasi alergi, respons Th2, produksi IgE, aktivitas sel mast, pelepasan histamin, eosinofil, makrofag, dan ILC2. Pada saat yang sama, estrogen juga dapat mendukung mekanisme toleransi imun melalui Treg, IL-10, dan FOXP3.
  • Hubungan tersebut menjelaskan mengapa gejala alergi pada sebagian perempuan dapat berubah selama pubertas, siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause.
  • Namun, estrogen tidak dapat dianggap sebagai penyebab tunggal alergi. Respons alergi merupakan hasil interaksi antara hormon, genetik, sistem imun, lingkungan, mikrobiota, dan faktor individu.
  • Pemahaman mengenai hubungan estrogen dan alergi dapat membantu menjelaskan mengapa penyakit alergi memiliki perjalanan yang berbeda pada setiap fase kehidupan.

Daftar pustaka

  • Gutiérrez-Brito JA, Lomelí-Nieto JÁ, Muñoz-Valle JF, Oregon-Romero E, Corona-Angeles JA, Hernández-Bello J. Sex hormones and allergies: exploring the gender differences in immune responses. Front Allergy. 2025;5:1483919. doi:10.3389/falgy.2024.1483919.
Visited 19 times, 19 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *