ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

ALERGI MAKANAN DI BALIK KULINER MEKSIKO: Pelajaran Klinis dari Piala Dunia 2026

🌎 ALERGI MAKANAN DI BALIK KULINER MEKSIKO: Pelajaran Klinis dari Piala Dunia 2026

Piala Dunia FIFA 2026 bukan hanya pesta sepak bola. Bagi jutaan pengunjung dari berbagai negara, ajang ini juga menjadi pengalaman mencicipi makanan lokal. Namun, bagi orang dengan alergi makanan, mencoba makanan baru dapat menjadi tantangan tersendiri. Sebuah artikel yang diterbitkan dalam Revista Alergia México pada 2026 membahas potensi alergen pada makanan tradisional Meksiko, khususnya dieta de la milpa, dan relevansinya bagi wisatawan dengan alergi makanan.¹

Para peneliti menelusuri laporan alergi makanan melalui PubMed dan mencocokkannya dengan daftar alergen WHO/IUIS. Dari 71 jenis makanan dalam milpa diet, 51 makanan memiliki laporan alergi dalam literatur. Namun, hanya 13 di antaranya yang memiliki protein alergen yang dapat diidentifikasi dalam analisis penelitian. Temuan ini penting karena angka tersebut tidak berarti 68% makanan tersebut pasti menyebabkan alergi. Angka itu hanya menunjukkan adanya laporan alergi dalam literatur yang ditelusuri.¹

Ke-13 makanan tersebut antara lain kacang tanah, tomat, biji bunga matahari, jagung, kacang polong, lentil, labu, cabai, pepaya, nanas, amaranth, alpukat, dan buncis. Dengan kata lain, makanan yang sehari-hari dianggap sebagai makanan biasa tetap dapat menjadi sumber alergen bagi orang tertentu yang memang mempunyai alergi makanan.

  • Salah satu temuan menarik adalah profilin, protein yang ditemukan pada 8 dari 13 makanan yang dianalisis. Profilin merupakan protein yang terdapat pada banyak tanaman dan dapat menyebabkan reaksi silang pada orang yang sudah tersensitisasi. Pada sebagian pasien, reaksi terhadap profilin lebih sering berupa gatal atau rasa tidak nyaman di mulut dan tenggorok setelah makan buah atau sayuran tertentu, yang dikenal sebagai pollen-food allergy syndrome atau oral allergy syndrome.¹
  • Namun, profilin tidak boleh disamakan dengan alergi makanan berat. Menemukan profilin pada suatu makanan tidak berarti setiap orang akan alergi terhadap makanan tersebut. Bahkan seseorang yang memiliki IgE terhadap profilin belum tentu mengalami gejala setiap kali mengonsumsi semua makanan yang mengandung protein tersebut. Inilah alasan mengapa hasil pemeriksaan alergi harus selalu dikaitkan dengan cerita dan gejala pasien.
  • Temuan lain yang lebih mendapat perhatian adalah nonspecific lipid transfer protein atau nsLTP. Protein ini ditemukan pada 7 dari 13 makanan yang dianalisis. Pada individu tertentu, sensitisasi terhadap nsLTP dapat berkaitan dengan reaksi yang lebih berat dan sistemik, termasuk anafilaksis. Karena itu, sumber makanan yang mengandung protein tersebut perlu diperhatikan pada pasien yang memang sudah diketahui memiliki alergi terkait.¹
  • Penelitian ini juga menunjukkan adanya reaktivitas silang. Hampir setengah dari makanan dengan alergen yang teridentifikasi mempunyai setidaknya dua kelompok protein alergen. Secara sederhana, sistem imun seseorang dapat mengenali protein yang mirip pada beberapa sumber makanan yang berbeda. Tetapi ada hal yang sangat penting: sensitisasi silang tidak selalu berarti alergi silang.
  • Di sinilah peran dokter alergi menjadi penting. Misalnya, seorang pasien mempunyai hasil skin prick test atau specific IgE positif terhadap suatu bahan makanan. Hasil tersebut menunjukkan adanya sensitisasi, tetapi belum otomatis membuktikan bahwa makanan tersebut menyebabkan gejala ketika dimakan. Diagnosis alergi makanan tidak boleh hanya didasarkan pada satu hasil laboratorium.
  • Dalam praktik klinis, dokter perlu kembali kepada anamnesis. Apa yang dimakan? Berapa banyak? Berapa menit atau jam kemudian gejala muncul? Gejalanya berupa gatal, urtikaria, muntah, batuk, sesak, atau penurunan kesadaran? Apakah reaksi berulang ketika makanan yang sama dikonsumsi? Apakah ada faktor lain seperti olahraga atau obat tertentu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali jauh lebih bermakna daripada sekadar melihat daftar hasil pemeriksaan alergi.
  • Pada kasus tertentu yang diagnosisnya masih belum jelas, oral food challenge (OFC) yang dilakukan dengan pengawasan medis dapat menjadi bagian penting dalam menentukan apakah seseorang benar-benar mengalami reaksi terhadap makanan tertentu. Prinsipnya adalah jangan sampai seseorang dinyatakan alergi hanya karena hasil tes menunjukkan sensitisasi, lalu harus menghindari banyak makanan yang sebenarnya masih dapat ditoleransi.
  • Hal ini sangat penting pada anak. Anak membutuhkan makanan yang beragam untuk pertumbuhan dan perkembangan. Penghindaran makanan yang tidak diperlukan dapat mempersempit variasi diet dan meningkatkan risiko kekurangan nutrisi. Karena itu, eliminasi makanan sebaiknya mempunyai alasan klinis yang jelas dan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi anak.
  • Bagi pasien dengan alergi makanan yang sudah terbukti, terutama yang pernah mengalami reaksi berat, perjalanan ke negara lain membutuhkan persiapan. Pasien dan keluarga perlu mengetahui makanan pencetus, membaca label, berhati-hati terhadap makanan campuran dan saus, memahami risiko kontaminasi silang, serta mempunyai rencana menghadapi reaksi alergi. Pada pasien dengan risiko anafilaksis, rencana kegawatdaruratan dan obat yang diresepkan dokter harus selalu tersedia.
  • Pelajaran terbesar dari jurnal ini bukanlah bahwa semakin banyak makanan harus dihindari. Justru sebaliknya. Artikel ini menunjukkan betapa kompleksnya alergi makanan dan mengapa diagnosis harus dilakukan secara hati-hati. Satu makanan dapat mengandung beberapa protein; satu protein dapat ditemukan pada berbagai makanan; dan satu hasil tes positif belum tentu berarti alergi klinis.
  • Dalam dunia yang semakin banyak perjalanan internasional, pemahaman terhadap makanan lokal menjadi bagian dari keselamatan pasien alergi. Piala Dunia 2026 di Meksiko memberikan contoh menarik: kuliner dapat menjadi pengalaman budaya yang menyenangkan, tetapi pasien alergi membutuhkan pengetahuan dan persiapan agar pengalaman tersebut tetap aman.

🩺 Pesan untuk pasien

  • Jangan langsung menghindari banyak makanan hanya karena hasil tes alergi positif.
  • Jangan pula menganggap semua makanan yang mengandung protein tertentu pasti berbahaya.
  • Yang lebih penting adalah:
  • Kenali gejalanya → evaluasi penyebabnya → interpretasikan tes dengan benar → pastikan diagnosis → hindari alergen yang memang terbukti → siapkan rencana menghadapi reaksi berat.

🌱 Pesan untuk orang tua

  • Pada anak, tujuan pengelolaan alergi bukan membuat daftar makanan semakin panjang untuk dihindari, tetapi memastikan anak aman sekaligus tetap memperoleh makanan yang cukup, beragam, dan sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya.
  • Alergi makanan membutuhkan diagnosis yang tepat—bukan ketakutan terhadap semakin banyak makanan.

Referensi

  1. Pavón Romero GF, Pérez Padilla D, Alvarado Pineda FV, et al. Food allergy in the context of the 2026 FIFA World Cup in Mexico. Rev Alerg Mex. 2026;73(2):e178-e187. doi:10.29262/ram.v73i2.1606
  2. Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: a review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58.
  3. Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, et al. EAACI food allergy and anaphylaxis guidelines: diagnosis and management of food allergy. Allergy. 2014;69(8):1008-1025.
  4. World Health Organization/International Union of Immunological Societies. Allergen Nomenclature Database. WHO/IUIS.
Visited 3 times, 3 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *