ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Diet Ibu Saat Hamil dan Menyusui: Benarkah Menghindari Makanan Alergen Dapat Mencegah Alergi pada Anak?

Diet Ibu Saat Hamil dan Menyusui: Benarkah Menghindari Makanan Alergen Dapat Mencegah Alergi pada Anak?

Review ilmiah terhadap systematic review USDA Nutrition Evidence Systematic Review dan implikasinya bagi praktik klinis

Abstrak

Alergi makanan dan penyakit atopik merupakan masalah kesehatan anak yang kompleks dengan kontribusi faktor genetik, lingkungan, sawar kulit dan mukosa, mikrobiota, serta paparan makanan pada periode awal kehidupan. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah ibu perlu menghindari makanan tertentu selama kehamilan atau menyusui untuk menurunkan risiko alergi pada anak. Donovan dan kolega melakukan systematic review yang disusun untuk Dietary Guidelines Advisory Committee 2020 dengan menilai hubungan diet maternal selama kehamilan dan laktasi dengan risiko alergi makanan, dermatitis atopik/eksim, rinitis alergi, dan asma pada anak. Review tersebut mencakup 36 artikel mengenai kehamilan yang berasal dari 5 randomized controlled trials (RCT), 1 non-RCT, dan 13 prospective cohort studies, serta 8 artikel mengenai laktasi yang berasal dari 4 RCT, 1 non-RCT, dan 1 prospective cohort study. Bukti keseluruhan tidak mendukung strategi menghindari makanan alergen selama kehamilan atau menyusui sebagai metode yang terbukti untuk mencegah alergi makanan anak. Bahkan, untuk beberapa outcome, bukti menunjukkan bahwa pembatasan susu sapi atau telur selama kehamilan tidak menurunkan risiko dermatitis atopik/eksim, rinitis alergi, atau asma. Temuan ini sejalan dengan rekomendasi EAACI yang menyarankan agar makanan alergen tidak dihindari selama kehamilan atau menyusui semata-mata untuk mencegah alergi pada anak


Pendahuluan

  • Kehamilan dan masa menyusui merupakan periode penting dalam perkembangan sistem imun anak. Nutrisi maternal tidak hanya berfungsi memenuhi kebutuhan ibu dan janin, tetapi juga berhubungan dengan lingkungan imunologis dan metabolik yang berkembang sejak kehidupan intrauterin. Karena itu, muncul hipotesis bahwa jenis makanan yang dikonsumsi atau dihindari ibu dapat memengaruhi risiko penyakit alergi anak di kemudian hari.
  • Hipotesis tersebut kemudian berkembang menjadi praktik diet eliminasi maternal. Sebagian ibu hamil atau menyusui menghindari susu sapi, telur, kacang tanah, kacang pohon, ikan, kedelai, gandum, atau berbagai makanan lain dengan harapan anak tidak mengalami alergi. Masalahnya, pembatasan tersebut dapat menyebabkan diet menjadi kurang beragam dan berpotensi menimbulkan kekurangan zat gizi apabila dilakukan tanpa indikasi klinis.
  • Systematic review Donovan dkk. penting karena secara khusus mengevaluasi pertanyaan apakah diet maternal selama kehamilan dan laktasi berhubungan dengan risiko alergi makanan dan penyakit atopik pada anak. Review ini dilakukan oleh USDA Nutrition Evidence Systematic Review untuk mendukung pekerjaan Dietary Guidelines Advisory Committee 2020.

Metode systematic review

  • Peneliti melakukan pencarian literatur melalui PubMed, Cochrane, Embase, dan CINAHL, disertai pencarian manual. Artikel diseleksi oleh dua analis secara independen berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan sebelumnya. Data kemudian diekstraksi dan risiko bias dinilai, sebelum keseluruhan bukti disintesis secara kualitatif.
  • Kekuatan bukti ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa komponen, antara lain risiko bias, konsistensi hasil, directness, precision, dan generalizability. Outcome yang diteliti mencakup food allergy, atopic dermatitis/eczema, allergic rhinitis, dan asthma pada anak sejak lahir hingga usia 18 tahun.
  • Untuk periode kehamilan, review memasukkan 36 artikel yang berasal dari 5 RCT, 1 non-RCT, dan 13 prospective cohort studies. Untuk laktasi, terdapat 8 artikel dari 4 RCT, 1 non-RCT, dan 1 prospective cohort study. Sebagian besar penelitian laktasi juga melibatkan periode kehamilan, sehingga bukti khusus mengenai diet selama laktasi saja relatif terbatas.

Hasil utama

Tabel 1. Ringkasan bukti diet maternal dan alergi anak

Intervensi/paparan maternal Periode Outcome Kesimpulan systematic review
Pembatasan produk susu sapi Kehamilan Alergi makanan Bukti tidak cukup
Konsumsi kacang tanah Kehamilan Alergi makanan Bukti tidak cukup
Konsumsi telur Kehamilan Alergi makanan Bukti tidak cukup
Konsumsi gandum Kehamilan Alergi makanan Bukti tidak cukup
Konsumsi kedelai Kehamilan Alergi makanan Bukti terbatas: tidak menunjukkan hubungan
Pembatasan susu sapi Kehamilan Dermatitis atopik/eksim Bukti moderat: tidak menurunkan risiko
Pembatasan telur Kehamilan Dermatitis atopik/eksim Bukti moderat: tidak menurunkan risiko
Konsumsi ikan Kehamilan Dermatitis atopik/eksim Bukti terbatas: tidak meningkatkan risiko
Pembatasan telur Kehamilan Rinitis alergi Bukti moderat: tidak menurunkan risiko
Pembatasan susu sapi Kehamilan Asma Bukti terbatas: tidak menurunkan risiko
Konsumsi telur Kehamilan Asma Bukti terbatas: tidak menunjukkan hubungan
Konsumsi ikan Kehamilan Asma Bukti terbatas: tidak menunjukkan hubungan
Diet maternal saat laktasi Laktasi Food allergy/eksim/rinitis/asma Bukti secara umum tidak cukup untuk kesimpulan kuat

Sumber utama tabel: Donovan et al., USDA Nutrition Evidence Systematic Review.


Alergi makanan: tidak ada dasar kuat untuk diet eliminasi maternal

  • Untuk food allergy, systematic review tidak menemukan bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa membatasi konsumsi produk susu sapi selama kehamilan dapat mencegah alergi makanan pada anak. Hal yang sama berlaku untuk konsumsi atau pembatasan telur, kacang tanah, dan gandum selama kehamilan.
  • Untuk kedelai, terdapat bukti terbatas yang menunjukkan tidak terdapat hubungan antara konsumsi kedelai selama kehamilan dan risiko alergi makanan pada anak. Sementara itu, untuk ikan, kacang pohon, biji-bijian, buah, sayuran, daging, dan pola diet maternal secara keseluruhan, bukti yang tersedia belum cukup untuk membuat kesimpulan.
  • Dengan demikian, hasil penelitian tidak mendukung gagasan sederhana bahwa “semakin banyak makanan alergen dihindari ibu, semakin kecil kemungkinan anak mengalami alergi.” Hubungan biologis antara diet maternal dan perkembangan alergi jauh lebih kompleks daripada sekadar keberadaan atau ketiadaan suatu makanan dalam menu ibu.

Dermatitis atopik: menghindari susu dan telur tidak terbukti mencegah eksim

  • Temuan yang cukup penting adalah adanya bukti moderat bahwa pembatasan produk susu sapi selama kehamilan tidak mengurangi risiko dermatitis atopik/eksim pada anak.
  • Hal yang sama ditemukan pada pembatasan telur. Bukti moderat menunjukkan bahwa mengurangi atau menghindari telur selama kehamilan tidak menurunkan risiko dermatitis atopik/eksim pada keturunan.
  • Temuan ini mempunyai implikasi klinis penting. Eksim merupakan penyakit multifaktorial. Faktor genetik, integritas sawar kulit, respons imun, mikrobiota, lingkungan, dan berbagai faktor awal kehidupan dapat berperan. Oleh karena itu, menghilangkan satu atau beberapa makanan dari diet ibu tidak dapat dianggap sebagai strategi universal untuk mencegah eksim.

Rinitis alergi dan asma

  • Pada rinitis alergi, bukti moderat menunjukkan bahwa pembatasan telur selama kehamilan tidak menurunkan risiko rinitis alergi pada anak. Untuk pola diet maternal secara keseluruhan, bukti terbatas juga tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan risiko rinitis alergi.
  • Untuk asma, bukti terbatas menunjukkan bahwa konsumsi susu sapi yang lebih rendah selama kehamilan tidak menurunkan risiko asma. Konsumsi telur dan ikan selama kehamilan juga tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan risiko asma berdasarkan bukti yang tersedia.
  • Artinya, strategi menghindari makanan tertentu selama kehamilan sebagai cara mencegah asma anak juga belum mempunyai dasar bukti yang kuat.

Bagaimana dengan masa menyusui?

  • Bukti mengenai diet ibu selama laktasi saja bahkan lebih terbatas. Review menemukan hanya sedikit penelitian yang secara khusus mengevaluasi hubungan diet maternal selama laktasi dengan alergi anak.
  • Untuk pembatasan susu sapi atau telur selama laktasi, bukti belum cukup untuk menentukan apakah strategi tersebut mengurangi risiko dermatitis atopik, sedangkan untuk sebagian besar makanan lain dan pola diet maternal, tidak tersedia bukti yang memadai untuk membuat kesimpulan kuat.
  • Karena itu, seorang ibu menyusui tidak seharusnya secara rutin menghilangkan berbagai makanan dari dietnya hanya karena khawatir anak akan mengalami alergi. Eliminasi maternal mempunyai tempat dalam kondisi klinis tertentu, misalnya ketika terdapat dugaan alergi makanan pada bayi yang menyusu dan terdapat hubungan temporal yang konsisten antara paparan maternal dan gejala bayi. Namun, situasi tersebut berbeda dengan diet eliminasi untuk pencegahan alergi pada anak yang sehat.
  • EAACI juga menekankan bahwa protein makanan seperti susu sapi, telur, kedelai, dan gandum dapat terdeteksi dalam ASI, dan paparan terhadap protein tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan toleransi, meskipun pada sebagian bayi dengan kondisi alergi tertentu paparan tersebut dapat menimbulkan gejala.

Mengapa hasil penelitian belum bisa mengatakan “diet maternal tidak berpengaruh sama sekali”?

  • Ini merupakan bagian yang sangat penting dalam membaca systematic review.
  • Kesimpulan “tidak cukup bukti” tidak sama dengan “terbukti tidak ada hubungan.” Sebagian besar penelitian yang tersedia masih memiliki keterbatasan. Pada periode kehamilan, jumlah RCT relatif sedikit sehingga banyak data berasal dari penelitian observasional.
  • Selain itu, beberapa penelitian tidak secara konsisten mengendalikan faktor perancu penting. Terdapat pula masalah seperti self-reported outcomes dan selection bias. Kelompok dengan socioeconomic status rendah, remaja, serta beberapa kelompok ras dan etnis juga kurang terwakili.
  • Karena itu, kesimpulan ilmiahnya harus hati-hati: belum ada bukti yang cukup bahwa menghindari makanan tertentu selama kehamilan atau menyusui merupakan strategi efektif untuk mencegah alergi anak, bukan bahwa diet maternal sama sekali tidak berhubungan dengan perkembangan sistem imun.

Dari “menghindari makanan” menuju kualitas diet

  • Perspektif penelitian alergi semakin berkembang dari pertanyaan sederhana mengenai satu makanan menuju kualitas dan keragaman diet secara keseluruhan.
  • Systematic review sebelumnya yang mencakup lebih dari 40.000 anak juga menemukan bahwa hubungan antara diet maternal dan penyakit atopik tidak konsisten. Beberapa pola, seperti diet kaya buah dan sayuran, ikan, makanan yang mengandung vitamin D, serta pola Mediterranean, menunjukkan kemungkinan hubungan dengan risiko alergi yang lebih rendah, tetapi temuan tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut.
  • EAACI juga menempatkan diet diversity sebagai konsep penting dalam nutrisi dan alergi. Position paper EAACI menyatakan bahwa bayi dari berbagai kategori risiko sebaiknya memperoleh diet yang beragam, karena tidak ditemukan bukti bahaya dari keragaman diet dan terdapat kemungkinan manfaat terhadap beberapa outcome alergi.

Konsep penting: toleransi imun, bukan sekadar menghindari paparan

  • Sistem imun anak tidak bekerja dengan prinsip sederhana bahwa setiap paparan terhadap protein makanan merupakan ancaman. Pada periode awal kehidupan, sistem imun justru berinteraksi dengan berbagai antigen lingkungan dan makanan dalam proses pembentukan immune tolerance.
  • Karena itu, paradigma pencegahan alergi modern tidak lagi hanya bertumpu pada “jangan makan makanan alergen”. EAACI 2020, misalnya, justru menyarankan tidak menghindari alergen makanan selama kehamilan atau menyusui untuk tujuan pencegahan alergi. Pedoman tersebut juga menekankan pengenalan telur yang dimasak dengan baik dan kacang tanah dalam bentuk yang sesuai usia sebagai bagian dari complementary feeding, dengan bukti yang mendukung pengenalan sekitar usia 4–6 bulan pada konteks yang sesuai.
  • Dengan demikian, periode setelah kelahiran—terutama saat complementary feeding—merupakan bagian penting dari diskusi pencegahan alergi dan tidak dapat digantikan hanya dengan mengubah diet ibu selama kehamilan.

Mengapa diet eliminasi maternal dapat menjadi masalah?

  • Diet eliminasi yang luas bukan tindakan yang netral. Menghilangkan susu, telur, ikan, kacang, kedelai, gandum, dan berbagai kelompok makanan sekaligus dapat menurunkan keragaman diet dan meningkatkan risiko ketidakcukupan nutrisi.
  • Dalam konteks alergi yang sudah terdiagnosis, EAACI 2024 menekankan pentingnya diet individual, dengan perhatian terhadap kecukupan nutrisi, pertumbuhan, perkembangan, serta kebutuhan pengganti makanan yang adekuat.
  • Prinsipnya bukan sekadar menentukan “apa yang tidak boleh dimakan”, tetapi juga memastikan “apa yang masih aman dan harus tetap dimakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.”

Implikasi klinis untuk dokter dan ibu

  • Berdasarkan systematic review ini, terdapat beberapa implikasi praktis.
  • Pertama, ibu hamil tidak perlu melakukan diet eliminasi makanan alergen secara rutin hanya untuk mencegah alergi pada anak.
  • Kedua, ibu menyusui juga tidak perlu menghindari berbagai makanan alergen secara preventif tanpa indikasi klinis.
  • Ketiga, apabila seorang ibu memang memiliki alergi terhadap makanan tertentu, tentu makanan tersebut harus dihindari untuk keselamatan ibu. Ini berbeda dengan menghindari makanan hanya karena khawatir anak akan menjadi alergi.
  • Keempat, jika bayi mengalami gejala yang dicurigai sebagai alergi makanan selama menyusu, evaluasi harus dilakukan secara sistematis. Eliminasi maternal yang dilakukan tanpa indikasi dan tanpa evaluasi ulang dapat menyebabkan pembatasan diet berkepanjangan.
  • Kelima, apabila eliminasi diperlukan karena dugaan alergi bayi, pengawasan pertumbuhan dan kecukupan nutrisi ibu maupun bayi menjadi bagian penting dari tata laksana.

Perbedaan pencegahan alergi dan tata laksana alergi

Perbedaan ini sering menimbulkan kebingungan.

Situasi Pendekatan
Ibu hamil sehat tanpa alergi Tidak perlu menghindari makanan alergen secara rutin untuk mencegah alergi anak
Ibu menyusui sehat Tidak perlu eliminasi makanan secara preventif
Ibu memiliki alergi makanan Hindari makanan pencetus untuk keselamatan ibu
Bayi sehat tanpa gejala Tidak perlu diet eliminasi maternal
Bayi dicurigai alergi makanan Evaluasi klinis sebelum melakukan eliminasi
Eliminasi maternal diperlukan Harus mempertimbangkan kecukupan nutrisi dan pertumbuhan
Alergi makanan bayi sudah terkonfirmasi Eliminasi terarah terhadap alergen yang terbukti, dengan pengawasan nutrisi
Bayi mulai complementary feeding Fokus pada pengenalan makanan yang sesuai usia dan keragaman diet

Kekuatan penelitian

  • Kekuatan utama review Donovan dkk. adalah metodologi systematic review yang terstruktur, pencarian pada beberapa database besar, proses seleksi independen, ekstraksi data, penilaian risiko bias, serta penggunaan kriteria yang telah ditentukan untuk menilai kekuatan bukti.
  • Review juga tidak hanya melihat alergi makanan, tetapi mencakup empat outcome penting: food allergy, dermatitis atopik/eksim, allergic rhinitis, dan asthma. Hal ini memberikan gambaran lebih luas mengenai kemungkinan hubungan diet maternal dengan penyakit atopik anak.

Keterbatasan penelitian

  • Keterbatasan utamanya adalah jumlah RCT yang relatif sedikit dan dominannya studi observasional. Studi observasional dapat menemukan hubungan, tetapi lebih sulit menentukan hubungan sebab-akibat.
  • Selain itu, definisi outcome, metode penilaian diet, usia anak saat outcome dinilai, faktor genetik, paparan lingkungan, breastfeeding, complementary feeding, dan berbagai confounder dapat berbeda antarpenelitian.
  • Keterbatasan lain adalah rendahnya representasi sejumlah kelompok sosial-demografis. Oleh sebab itu, generalisasi hasil penelitian ke seluruh populasi dunia, termasuk populasi Indonesia, harus dilakukan secara hati-hati.

Implikasi untuk Indonesia

  • Dalam konteks Indonesia, pesan penelitian ini relevan karena praktik pantang makanan selama kehamilan dan menyusui cukup mudah berkembang berdasarkan pengalaman keluarga, informasi media sosial, atau hasil pemeriksaan yang belum tentu mempunyai makna klinis.
  • Pendekatan berbasis bukti mengarah pada prinsip yang lebih sederhana: kehamilan bukan periode untuk melakukan diet eliminasi alergi secara rutin. Ibu membutuhkan makanan yang beragam dan bergizi sesuai kebutuhan kehamilan, kecuali terdapat alasan medis khusus untuk membatasi makanan tertentu.
  • Demikian pula, menyusui tidak seharusnya identik dengan daftar panjang makanan yang “haram dimakan” oleh ibu. Pembatasan harus mempunyai alasan klinis yang jelas dan, bila luas atau berlangsung lama, idealnya disertai pengawasan profesional gizi.

Apa yang berubah dalam pemahaman alergi modern?

  • Penelitian ini memperlihatkan pergeseran paradigma penting. Pencegahan alergi tidak lagi dapat dirumuskan sebagai “hindari semua makanan yang berpotensi menyebabkan alergi.”
  • Sebaliknya, pendekatan modern mempertimbangkan interaksi kompleks antara genetik, sawar kulit, mikrobiota, diet, paparan lingkungan, perkembangan sistem imun, breastfeeding, dan complementary feeding.
  • EAACI secara khusus menyarankan agar makanan alergen tidak dihindari selama kehamilan atau menyusui untuk tujuan pencegahan food allergy, sementara pengenalan makanan tertentu seperti telur matang dan kacang tanah dalam bentuk sesuai usia menjadi bagian dari strategi pencegahan pada periode complementary feeding.

Kesimpulan

  • Systematic review Donovan dkk. menunjukkan bahwa bukti tidak mendukung pembatasan makanan alergen selama kehamilan atau menyusui sebagai strategi yang terbukti untuk mencegah alergi makanan pada anak. Untuk dermatitis atopik/eksim, terdapat bukti moderat bahwa pembatasan susu sapi dan telur selama kehamilan tidak mengurangi risiko. Untuk rinitis alergi dan asma, sejumlah hasil juga tidak menunjukkan manfaat dari pembatasan makanan tertentu. Sementara itu, bukti mengenai diet maternal selama laktasi saja masih sangat terbatas.
  • Pesan klinis yang paling penting adalah bahwa “menghindari makanan alergen” bukan sinonim dari “mencegah alergi.” Pada ibu sehat, diet sebaiknya beragam, bergizi, dan tidak dibatasi tanpa alasan medis. Bila terdapat dugaan alergi pada bayi, eliminasi maternal harus dilakukan secara terarah dan dievaluasi kembali, bukan berdasarkan dugaan semata.
  • Dengan perkembangan ilmu alergi, perhatian semakin bergeser dari ketakutan terhadap makanan menuju pembentukan toleransi imun, keragaman diet, nutrisi yang adekuat, dan pengenalan makanan secara tepat pada periode awal kehidupan. Bukti EAACI juga mendukung pendekatan yang tidak menganjurkan penghindaran alergen selama kehamilan atau menyusui semata-mata untuk pencegahan alergi.

Referensi utama

  1. Donovan S, Dewey K, Novotny R, et al. Maternal Diet during Pregnancy and Lactation and Risk of Child Food Allergies and Atopic Allergic Diseases: A Systematic Review. USDA Nutrition Evidence Systematic Review. 2020. DOI: 10.52570/NESR.DGAC2020.SR0207.
  2. Halken S, Muraro A, de Silva D, et al. EAACI guideline: Preventing the development of food allergy in infants and young children (2020 update). Pediatr Allergy Immunol. 2021;32(5):843–858.
  3. Garcia-Lloret MI, et al./EAACI Task Force. Dietary factors during pregnancy and atopic outcomes in childhood: A systematic review from the European Academy of Allergy and Clinical Immunology.
  4. Makrides M, et al. Does maternal diet during pregnancy and lactation affect outcomes in offspring? A systematic review of food-based approaches. Nutrition. 2014.
  5. EAACI. Diagnosis and management of Non-IgE gastrointestinal allergies in breastfed infants – EAACI Position Paper. Allergy. 2020;75:14–32.
  6. EAACI. EAACI Position Paper on diet diversity in pregnancy, infancy and childhood. Allergy. 2020;75:497–523.
  7. EAACI. EAACI Guidelines on the Management of IgE-Mediated Food Allergy. 2024.
Visited 4 times, 4 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *