REVIEW JURNAL
Food Allergy in the Context of the 2026 FIFA World Cup in Mexico
Revista Alergia México. 2026;73(2):e178-e187. doi:10.29262/ram.v73i2.1606
Latar Belakang
- Pavón Romero dkk. membahas alergi makanan dalam konteks penyelenggaraan FIFA World Cup 2026 di Meksiko, dengan perhatian khusus terhadap milpa diet, yaitu pola pangan tradisional Meksiko yang mencakup berbagai bahan pangan asli seperti jagung, kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran dan buah. Fokus ini mempunyai relevansi klinis karena wisatawan dengan alergi makanan akan memasuki lingkungan pangan yang berbeda dari kebiasaan sehari-hari mereka. Perubahan jenis makanan, bumbu, cara pengolahan, label pangan, serta kemungkinan kontaminasi silang dapat meningkatkan tantangan dalam menghindari alergen. Penulis menekankan perlunya informasi mengenai alergen lokal bagi pasien maupun tenaga kesehatan selama kegiatan internasional berskala besar.^1
Tujuan dan Metodologi
- Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan alergen utama yang ditemukan pada makanan tradisional Meksiko, khususnya makanan yang termasuk dalam milpa diet, yang berpotensi menjadi sumber reaksi alergi pada wisatawan. Penulis menggunakan desain deskriptif-retrospektif melalui penelusuran PubMed/NIH terhadap laporan alergi makanan yang berkaitan dengan makanan milpa. Alergen kemudian dikaitkan dengan daftar alergen yang diakui dalam basis data WHO/IUIS. Pendekatan ini berguna untuk memetakan protein alergen yang telah dilaporkan, tetapi tidak dirancang untuk menentukan prevalensi alergi, risiko absolut reaksi, ataupun insidensi anafilaksis pada populasi umum.^1
Temuan Utama
- Dari 71 makanan yang termasuk dalam milpa diet, sebanyak 51 makanan (68%) memiliki laporan alergi makanan, tetapi hanya 13 dari 51 makanan (25,49%) yang mempunyai alergen teridentifikasi dalam analisis tersebut. Makanan yang memiliki alergen teridentifikasi meliputi kacang tanah, tomat, biji bunga matahari, jagung, kacang polong, lentil, labu, cabai, pepaya, nanas, amaranth, alpukat dan buncis.^1 Angka 68% harus dipahami secara tepat. Angka tersebut menunjukkan adanya laporan alergi dalam literatur yang ditelusuri, bukan berarti 68% makanan tersebut menyebabkan alergi pada 68% orang. Perbedaan antara frekuensi laporan dan risiko alergi aktual merupakan aspek penting dalam interpretasi hasil penelitian.
Profilin dan Gejala Oral
- Profilin merupakan kelompok protein yang paling sering ditemukan, yaitu pada 8 dari 13 makanan (61,53%). Profilin merupakan pan-alergen yang terdapat pada berbagai sumber tanaman dan dapat berperan dalam reaktivitas silang. Pada individu tertentu yang telah tersensitisasi, paparan makanan yang mengandung profilin dapat berhubungan dengan pollen-food allergy syndrome/oral allergy syndrome, yang umumnya menimbulkan gejala lokal seperti rasa gatal atau kesemutan pada mulut dan tenggorok. Namun, keberadaan profilin pada suatu makanan tidak berarti semua orang yang mengonsumsi makanan tersebut akan mengalami alergi, dan tidak pula secara otomatis menunjukkan risiko anafilaksis.^1
Nonspecific Lipid Transfer Protein
- Temuan penting lainnya adalah nonspecific lipid transfer protein (nsLTP) yang ditemukan pada 7 dari 13 makanan (53,84%). Secara klinis, nsLTP mempunyai karakteristik berbeda dari profilin. Protein ini relatif stabil terhadap panas dan proses pencernaan, dan pada individu tertentu dapat berhubungan dengan reaksi sistemik, termasuk anafilaksis. Penulis memberikan perhatian khusus terhadap makanan seperti kacang tanah yang mengandung nsLTP.^1 Namun, keberadaan nsLTP tetap harus dipahami dalam konteks pasien. Tidak semua individu dengan sensitisasi terhadap komponen tersebut akan mengalami reaksi klinis ketika mengonsumsi makanan yang bersangkutan.
Reaktivitas Silang
- Penelitian juga menunjukkan bahwa 6 dari 13 makanan (46,15%) memiliki setidaknya dua protein alergen, dengan kombinasi nsLTP dan profilin sebagai salah satu pola yang ditemukan. Temuan ini memperlihatkan kompleksitas cross-reactivity pada alergi makanan. Secara imunologis, antibodi IgE dapat mengenali protein dengan struktur yang memiliki kemiripan pada berbagai sumber makanan atau lingkungan. Akan tetapi, sensitisasi silang tidak selalu sama dengan alergi silang secara klinis. Karena itu, keberadaan IgE terhadap suatu komponen tidak boleh secara otomatis diterjemahkan sebagai keharusan menghindari seluruh makanan yang mengandung protein serupa.
Kekuatan Penelitian
- Kekuatan artikel ini terletak pada pendekatannya yang tidak hanya mengidentifikasi nama makanan, tetapi juga memeriksa komponen protein alergen yang berkaitan dengan makanan tersebut. Pendekatan berbasis komponen memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kemungkinan reaktivitas silang dan variasi fenotipe klinis. Penggunaan basis data WHO/IUIS juga memberikan kerangka klasifikasi alergen yang lebih sistematis.^1 Artikel ini mempunyai relevansi praktis karena menghubungkan pengetahuan molekuler mengenai alergi makanan dengan situasi nyata berupa perjalanan internasional dan konsumsi makanan lokal.
Keterbatasan Penelitian
- Penelitian ini memiliki keterbatasan penting. Desainnya merupakan review deskriptif berbasis laporan literatur, sehingga tidak dapat digunakan untuk menentukan prevalensi alergi makanan atau memperkirakan probabilitas seseorang mengalami anafilaksis setelah mengonsumsi makanan tertentu. Jumlah publikasi mengenai suatu makanan juga dapat dipengaruhi oleh seberapa sering makanan tersebut diteliti dan dilaporkan. Oleh karena itu, hasil penelitian tidak seharusnya digunakan untuk membuat daftar larangan makanan bagi masyarakat umum. Bahkan pada pasien dengan dugaan alergi, eliminasi makanan sebaiknya dilakukan berdasarkan evaluasi klinis yang memadai.
Implikasi Klinis: Anamnesis
- Implikasi pertama bagi praktik alergi adalah pentingnya anamnesis makanan yang rinci. Dokter perlu menilai makanan yang dikonsumsi, jumlah, bentuk dan cara pengolahan, waktu munculnya gejala, jenis gejala, konsistensi hubungan antara makanan dan reaksi, serta kemungkinan kofaktor seperti aktivitas fisik atau obat tertentu. Pada wisatawan, anamnesis perlu mencakup makanan lokal, saus, bumbu, makanan campuran dan kemungkinan kontaminasi silang. Informasi mengenai alergen lokal dapat membantu dokter mempertajam anamnesis, tetapi tidak menggantikan proses diagnosis.^1
Implikasi Klinis: Sensitisasi ≠ Alergi
- Temuan artikel ini juga menegaskan pentingnya membedakan sensitisasi dengan alergi makanan klinis. Hasil skin prick test atau specific IgE menunjukkan adanya respons imun atau sensitisasi terhadap suatu alergen, tetapi tidak selalu membuktikan bahwa konsumsi makanan tersebut akan menimbulkan gejala. Hal ini sangat relevan pada protein seperti profilin yang dapat menyebabkan pola sensitisasi silang. Interpretasi hasil pemeriksaan harus dilakukan bersama riwayat klinis. Pada kasus tertentu yang diagnosisnya masih tidak pasti, oral food challenge (OFC) terkontrol secara medis dapat digunakan untuk menentukan toleransi atau reaksi klinis secara langsung.
Implikasi Klinis: Pencegahan Anafilaksis
- Pada pasien yang telah mempunyai alergi makanan yang terbukti dan memiliki risiko reaksi sistemik, pengelolaan harus mencakup penghindaran alergen yang relevan, edukasi membaca label, pencegahan kontaminasi silang, pengenalan gejala anafilaksis, serta rencana penanganan kegawatdaruratan. Bagi pasien yang melakukan perjalanan internasional, edukasi sebelum keberangkatan menjadi sangat penting karena bahasa, sistem pelabelan, jenis makanan, metode pengolahan dan akses terhadap pelayanan medis dapat berbeda. Artikel ini memperluas konsep food allergy management dari sekadar diagnosis menjadi kesiapan menghadapi paparan di dunia nyata.^1
Implikasi untuk Praktik Pediatri dan Alergi
- Dalam praktik pediatri, temuan ini sebaiknya tidak diterjemahkan menjadi “semakin banyak makanan yang dihindari, semakin aman anak.” Justru pendekatan alergi modern menekankan diagnosis yang akurat dan penghindaran alergen yang memang terbukti relevan. Eliminasi makanan yang tidak diperlukan dapat mempersempit variasi diet dan berpotensi menimbulkan masalah nutrisi, terutama pada anak yang sedang berada dalam fase pertumbuhan. Karena itu, ketika terdapat dugaan alergi makanan, dokter perlu menyeimbangkan keselamatan pasien dengan kebutuhan nutrisi, kualitas hidup, dan bukti diagnostik.
- Kesimpulan
- Artikel Pavón Romero dkk. memberikan gambaran menarik mengenai profil alergen pada makanan tradisional Meksiko dalam konteks FIFA World Cup 2026. Profilin merupakan komponen yang paling sering ditemukan, sementara nsLTP memiliki perhatian klinis khusus karena dapat berhubungan dengan reaksi sistemik pada individu tertentu.^1 Namun, keberadaan suatu protein alergen tidak sama dengan diagnosis alergi klinis. Temuan penelitian paling bermanfaat bila digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan dokter, memperbaiki anamnesis, memahami reaktivitas silang, menginterpretasikan pemeriksaan IgE secara tepat, dan mempersiapkan pasien berisiko menghadapi paparan makanan selama perjalanan. Prinsip klinis yang penting adalah: diagnosis harus berbasis bukti klinis, sensitisasi tidak otomatis berarti alergi, dan eliminasi makanan harus dilakukan secara terarah—bukan berdasarkan daftar protein semata.
Referensi
- Pavón Romero GF, Pérez Padilla D, Alvarado Pineda FV, et al. Food allergy in the context of the 2026 FIFA World Cup in Mexico. Rev Alerg Mex. 2026;73(2):e178-e187. doi:10.29262/ram.v73i2.1606











Leave a Reply